Analisa
dan Perancangan Sistem Pendukung Pengambilan KeputusanPemberian Beasiswa
Mahasiswa Tidak Mampu
dan
Berprestasi Pada IAIN Raden Intan Lampung
Latar Belakang Masalah
Secara
umum, teknologi informasi mencakup tiga hal, yaitu management information system, processing information system, decision
information system. Teknologi informasi organisasi berfungsi memperlancar
dalam perolehan dan penyimpanan data, yang dengan menggunakan berbagai fungsi
software, selanjutnya dapat diinterpretasi dan ditransformasi menjadi informasi
yang bermakna, dan memungkinkan transmisi informasi ini kepada para pengguna
sehingga membantu mereka untuk mencapai tujuan dan sasaran organisasi[1].
Teknologi
Informasi memberikan bantuan kepada manusia dalam melakukan proses komputasi
terhadap permasalahan yang dihadapi sehingga permasalahan itu dapat
diselesaikan dengan lebih cepat dan akurat. Aplikasi teknologi informasi antara
lain digunakan pada proses manajemen organisasi. Salah satu kegunaan teknologi
informasi pada proses manajemen adalah dengan diterapkannya sistem pendukung
pengambilan keputusan atau Decision Support system (DSS)
Sistem
pengambilan keputusan berbantuan komputer adalah bentuk interaktif yang
membantu pengguna dalam kegiatan penilaian dan pemilihan. Memberikan
penyimpanan data dan menemukannya kembali namun meningkatkan akses informasi
secara tradisional dan fungsi-fungsi penemuan dengan dukungan untuk
mengembangkan model dan model berbasis penalaran. Mereka mendukung pembentukan
frame-frame, pembuatan model dan pemecahan masalah[2].
Proses
pemberian beasiswa bagi mahasiswa tidak mampu dan berprestasi merupakan
kegiatan untuk menetapkan sejumlah mahasiswa yang dapat diberikan beasiswa yang
bersumber dari beberapa donatur. Jumlah mahasiswa yang dapat menerima bantuan
beasiswa melebihi batas kemampuan kuota yang disediakan oleh donatur. Sehingga
tidak semua mahasiswa memperoleh beasiswa, melainkan hanya sejumlah mahasiswa
yang dapat menerimanya.
II.
Permasalahan
Dari
uraian di atas maka permasalahan yang harus dipecahkan adalah: Bagaimana
memberikan beasiswa kepada mahasiswa sesuai dengan kemampuan donatur.
Bagimana teknologi
informasi dapat membantu memecahkan masalah pemberian beasiswa dengan berbasis
Decision Support System?
III.
Batasan Masalah
Masalah
yang akan dibahas dalam tulisan ini dibatasi pada:Bagaimankah Model AHP (analitycal
hierarchie process) dapat memberikan bantuan dalam menetapkan pemberian
beasiswa?
IV Landasan Teori
Pengambilan keputusan adalah pemilihan beberapa
tindakan alternatif yang ada untuk mencapai satu atau beberapa tujuan yang
telah ditetapkan[3].
Sistem pendukung keputusan adalah suatu sistem berbasis komputer yang
menghasilkan berbagai alternatif keputusan untuk membantu manajemen dalam
menangani berbagai permasalahan yang terstruktur ataupun tidak terstruktur
dengan menggunakan data dan model[4]
(McLeod, 2004).
Menurut Turban (2005), komponen Sistem Pengambilan
Keputusan dapat dibangun dari subsistem berikut ini, dapat dilihat pada Gambar
1. :
- Subsistem Manajemen Data (Data Management Subsystem), meliputi basis data – basis data yang berisi data yang relevan dengan keadaan dan dikelola software yang disebut DBMS (Database Management System).
- Subsistem Manajemen Model (Model Management Subsystem), berupa sebuah paket software yang berisi model-model finansial, statistik, management science, atau model kwantitatif, yang menyediakan kemampuan analisa dan software management yang sesuai.
- Subsistem Manajemen Pengetahuan (Knowledge Management Subsystem), merupakan subsistem (optional) yang dapat mendukung subsistem lain atau berlaku sebagai komponen yang berdiri sendiri (independent).
- Subsistem Antarmuka Pengguna (User Interface Subsystem), merupakan subsistem yang dapat dipakai oleh user untuk berkomunikasi dan memberi perintah (menyediakan user interface).
- Pengguna (user), termasuk di dalamnya adalah pengguna (user), manager, dan pengambil keputusan
A. Analitycal Hierarchi Process (AHP)
Menurut
Turban (2005), Analytical Hierarcy Process (AHP) adalah suatu metode
analisis dan sintesis yang dapat membantu proses Pengambilan Keputusan. AHP
merupakan alat pengambil keputusan yang powerful dan fleksibel, yang dapat
membantu dalam menetapkan prioritas-prioritas dan membuat keputusan di mana
aspek-aspek kualitatif dan kuantitatif terlibat dan keduanya harus
dipertimbangkan. Dengan mereduksi faktor-faktor yang kompleks menjadi rangkaian
“one on one comparisons” dan kemudian mensintesa hasil-hasilnya, maka
AHP tidak hanya membantu orang dalam memilih keputusan yang tepat, tetapi juga
dapat memberikan pemikiran/alasan yang jelas dan tepat.
AHP
sangat cocok dan flexibel digunakan untuk menentukan keputusan yang menolong
seorang decision maker untuk mengambil keputusan yang kualitatif dan
kuantitatif berdasarkan segala aspek yang dimilikinya. Kelebihan lain dari AHP
adalah dapat memberikan gambaran yang jelas dan rasional kepada
decision
maker tentang keputusan yang dihasilkan[5].
1.
Jenis-jenis
AHP
a.
Single-kriteria
Pilih satu alternatif dengan satu
kriteria, Pengambilan keputusan yang melibatkan satu/lebih alternatif dengan
satu kriteria.
b.
Multi-kriteria
Pengambilan keputusan yang melibatkan
satu/lebih alternatif dengan lebih dari satu kriteria Pilih satu alternatif
dengan banyak kriteria
AHP
sering digunakan sebagai metode pemecahan masalah dibanding dengan metode yang
lain karena alasan-alasan sebagai berikut :
a. Struktur
yang berhirarki, sebagai konsekuesi dari kriteria yang dipilih, sampai pada
subkriteria yang paling dalam.
b. Memperhitungkan
validitas sampai dengan batas toleransi inkonsistensi berbagai kriteria dan
alternatif yang dipilih oleh pengambil keputusan.
c. Memperhitungkan
daya tahan output analisis sensitivitas pengambilan keputusan.
2.
Kelebihan
dan Kekurangan AHP
Layaknya
sebuah metode analisis, AHP pun memiliki kelebihan dan kelemahan dalam system
analisisnya. Kelebihan-kelebihan analisis ini adalah :
a. Kesatuan
(Unity) AHP membuat permasalahan yang luas dan tidak terstruktur menjadi suatu
model yang fleksibel dan mudah dipahami.
b. Kompleksitas
(Complexity) AHP memecahkan permasalahan yang kompleks melalui pendekatan
sistem dan pengintegrasian secara deduktif.
c. Saling
ketergantungan (Inter Dependence) AHP dapat digunakan pada elemen-elemen sistem
yang saling bebas dan tidak memerlukan hubungan linier.
d. Struktur
Hirarki (Hierarchy Structuring) AHP mewakili pemikiran alamiah yang cenderung
mengelompokkan elemen sistem ke level-level yang berbeda dari masing-masing
level berisi elemen yang serupa.
e. Pengukuran
(Measurement) AHP menyediakan skala pengukuran dan metode untuk mendapatkan
prioritas.
f. Konsistensi
(Consistency) AHP mempertimbangkan konsistensi logis dalam penilaian yang
digunakan untuk menentukan prioritas.
g. Sintesis
(Synthesis) AHP mengarah pada perkiraan keseluruhan mengenai seberapa
diinginkannya masing-masing alternatif.
h. Trade
Off AHP mempertimbangkan prioritas relatif faktor-faktor pada sistem sehingga
orang mampu memilih altenatif terbaik berdasarkan tujuan mereka.
i. Penilaian
dan Konsensus (Judgement and Consensus) AHP tidak mengharuskan adanya suatu
konsensus, tapi menggabungkan hasil penilaian yang berbeda.
j. Pengulangan
Proses (Process Repetition) AHP mampu membuat orang menyaring definisi dari
suatu permasalahan dan mengembangkan penilaian serta pengertian mereka melalui
proses pengulangan.
Sedangkan
kelemahan metode AHP adalah sebagai berikut:
a. Ketergantungan
model AHP pada input utamanya. Input utama ini berupa persepsi seorang ahli
sehingga dalam hal ini melibatkan subyektifitas sang ahli selain itu juga model
menjadi tidak berarti jika ahli tersebut memberikan penilaian yang keliru.
b. Metode
AHP ini hanya metode matematis tanpa ada pengujian secara statistik sehingga
tidak ada batas kepercayaan dari kebenaran model yang terbentuk.
3.
Langkah-Langkah
penerapan AHP
Dalam
metode AHP dilakukan langkah-langkah sebagai berikut (Kadarsyah Suryadi dan Ali
Ramdhani, 1998) :
a. Mendefinisikan
masalah dan menentukan solusi yang diinginkan. Dalam tahap ini kita berusaha
menentukan masalah yang akan kita pecahkan secara jelas, detail dan mudah
dipahami. Dari masalah yang ada kita coba tentukan solusi yang mungkin cocok
bagi masalah tersebut. Solusi dari masalah mungkin berjumlah lebih dari satu.
Solusi tersebut nantinya kita kembangkan lebih lanjut dalam tahap berikutnya
b. Membuat
struktur hierarki yang diawali dengan tujuan utama. Setelah menyusun tujuan
utama sebagai level teratas akan disusun level hirarki yang berada di bawahnya
yaitu kriteria-kriteria yang cocok untuk mempertimbangkan atau menilai
alternatif yang kita berikan dan menentukan alternatif tersebut. Tiap kriteria
mempunyai intensitas yang berbeda-beda. Hirarki dilanjutkan dengan subkriteria
(jika mungkin diperlukan).
c. Membuat
matrik perbandingan berpasangan yang menggambarkan kontribusi relatif atau
pengaruh setiap elemen terhadap tujuan atau kriteria yang setingkat di atasnya.
Matriks yang digunakan bersifat sederhana, memiliki kedudukan kuat untuk
kerangka konsistensi, mendapatkan informasi lain yang mungkin dibutuhkan dengan
semua perbandingan yang mungkin dan mampu menganalisis kepekaan prioritas
secara keseluruhan untuk perubahan pertimbangan. Pendekatan dengan matriks
mencerminkan aspek ganda dalam prioritas yaitu mendominasi dan didominasi.
Perbandingan dilakukan berdasarkan judgment dari pengambil keputusan dengan
menilai tingkat kepentingan suatu elemen dibandingkan elemen lainnya. Untuk
memulai proses perbandingan berpasangan dipilih sebuah kriteria dari level
paling atas hirarki misalnya K dan kemudian dari level di bawahnya diambil
elemen yang akan dibandingkan misalnya E1,E2,E3,E4,E5.
d. Melakukan
Mendefinisikan perbandingan berpasangan sehingga diperoleh jumlah penilaian
seluruhnya sebanyak n x [(n-1)/2] buah, dengan n adalah banyaknya elemen yang
dibandingkan. Hasil perbandingan dari masing-masing elemen akan berupa angka
dari 1 sampai 9 yang menunjukkan perbandingan tingkat kepentingan suatu elemen.
Apabila suatu elemen dalam matriks dibandingkan dengan dirinya sendiri maka
hasil perbandingan diberi nilai 1. Skala 9 telah terbukti dapat diterima dan
bisa membedakan intensitas antar elemen. Hasil perbandingan tersebut diisikan
pada sel yang bersesuaian dengan elemen yang dibandingkan. Skala perbandingan
perbandingan berpasangan dan maknanya yang diperkenalkan oleh Saaty bisa
dilihat di bawah.
e. Menghitung
nilai eigen dan menguji konsistensinya. Jika tidak konsisten maka pengambilan
data diulangi.
f. Mengulangi
langkah 3,4, dan 5 untuk seluruh tingkat hirarki.
g. Menghitung
vektor eigen dari setiap matriks perbandingan berpasangan yang merupakan bobot
setiap elemen untuk penentuan prioritas elemen-elemen pada tingkat hirarki
terendah sampai mencapai tujuan. Penghitungan dilakukan lewat cara menjumlahkan
nilai setiap kolom dari matriks, membagi setiap nilai dari kolom dengan total
kolom yang bersangkutan untuk memperoleh normalisasi matriks, dan menjumlahkan
nilai-nilai dari setiap baris dan membaginya dengan jumlah elemen untuk
mendapatkan rata-rata.
h. Memeriksa
konsistensi hirarki. Yang diukur dalam AHP adalah rasio konsistensi dengan
melihat index konsistensi. Konsistensi yang diharapkan adalah yang mendekati
sempurna agar menghasilkan keputusan yang mendekati valid. Walaupun sulit untuk
mencapai yang sempurna, rasio konsistensi diharapkan kurang dari atau sama
dengan 10 %.
4.
Prinsip
Dasar dan Aksioma AHP
AHP
didasarkan atas 3 prinsip dasar yaitu:
a.
Dekomposisi
Dengan
prinsip ini struktur masalah yang kompleks dibagi menjadi bagian-bagian secara
hierarki. Tujuan didefinisikan dari yang umum sampai khusus. Dalam bentuk yang
paling sederhana struktur akan dibandingkan tujuan, kriteria dan level
alternatif. Tiap himpunan alternatif mungkin akan dibagi lebih jauh menjadi
tingkatan yang lebih detail, mencakup lebih banyak kriteria yang lain. Level
paling atas dari hirarki merupakan tujuan yang terdiri atas satu elemen. Level
berikutnya mungkin mengandung beberapa elemen, di mana elemen-elemen tersebut
bisa dibandingkan, memiliki kepentingan yang hampir sama dan tidak memiliki
perbedaan yang terlalu mencolok. Jika perbedaan terlalu besar harus dibuatkan
level yang baru.
b.
Perbandingan
penilaian/pertimbangan (comparative judgments).
Dengan
prinsip ini akan dibangun perbandingan berpasangan dari semua elemen yang ada
dengan tujuan menghasilkan skala kepentingan relatif dari elemen. Penilaian
menghasilkan skala penilaian yang berupa angka. Perbandingan berpasangan dalam
bentuk matriks jika dikombinasikan akan menghasilkan prioritas.
c.
Sintesa
Prioritas
Sintesa
prioritas dilakukan dengan mengalikan prioritas lokal dengan prioritas dari
kriteria bersangkutan di level atasnya dan menambahkannya ke tiap elemen dalam
level yang dipengaruhi kriteria. Hasilnya berupa gabungan atau dikenal dengan
prioritas global yang kemudian digunakan untuk memboboti prioritas lokal dari
elemen di level terendah sesuai dengan kriterianya.
AHP
didasarkan atas 3 aksioma utama yaitu :
a. Aksioma
Resiprokal Aksioma ini menyatakan jika PC (EA,EB) adalah sebuah perbandingan
berpasangan antara elemen A dan elemen B, dengan memperhitungkan C sebagai
elemen parent, menunjukkan berapa kali lebih banyak properti yang dimiliki
elemen A terhadap B, maka PC (EB,EA)= 1/ PC (EA,EB). Misalnya jika A 5 kali
lebih besar daripada B, maka B=1/5 A.
b. Aksioma
Homogenitas Aksioma ini menyatakan bahwa elemen yang dibandingkan tidak berbeda
terlalu jauh. Jika perbedaan terlalu besar, hasil yang didapatkan mengandung
nilai kesalahan yang tinggi. Ketika hirarki dibangun, kita harus berusaha
mengatur elemenelemen agar elemen tersebut tidak menghasilkan hasil dengan
akurasi rendah dan inkonsistensi tinggi.
c. Aksioma
Ketergantungan Aksioma ini menyatakan bahwa prioritas elemen dalam hirarki
tidak bergantung pada elemen level di bawahnya. Aksioma ini membuat kita bisa
menerapkan prinsip komposisi hirarki.
V.
Aplikasi AHP pada penetapan Beasiswa
1.
Konteks Masalah
Penetapan
beasiswa bagi mahasiswa tidak mampu dan berprestasi diberikan kepada mahasisa
yang secara ekonomi digolongkan tidak mampu namun memiliki prestasi akademik
yang baik. Mahasiswa tersebut tersebar
di 4 (empat) fakultas dengan kemampuan ekonomi yang beragam dan tingkat
perolehan hasil belajar yang bervariasi. Sedangkan sumber dana beasiswa berasal
dari 4 (empat) sumber, yaitu Bidik Misi, Supersemar, Gudang Garam, dan Beasiswa
Institusi Lokal (BLU=Badan Layanan Umum), dimana setiap sumber beasiswa
membatasi jumlah mahasiswa yang dapat diberi beasiswa dan besaran beasiswa yang
diberikan juga bervariasi.
2.
Dekomposisi
Masalah
Dari
konteks masalah tersebut dapatlah dilakukan dekomposisi sebagai berikut:
a. Mahasiswa
terebar dalam 4 (empat) fakultas
b. Setiap
Mahasiswa Tidak Mampu dapat diberi beasiswa;
c. Setiap
Mahasiswa Berprestasi dapat diberi beasiswa
d. Beasiswa
yang tersedia berasal dari 4 (sumber)
e. Beasiswa
Bidik Misi memberikan bantuan sebesar Rp 1.500.000,- (satu juta lima ratus ribu
rupiah) setiap semester
f. Beasiswa
Bidik Misi hanya diberikan kepada mahasiswa sampai dengan semester IV
g. Beasiswa
Bidik Misi memberikan fasilitas bantuan asrama untuk mahasiswa yang jauh dari
tempat tinggalnya.
h. Beasiswa
Supersemar memberikan bantuan sebesar Rp. 1.000.000,- (satu juta rupiah) setiap
semester
i. Beasiswa
supersemar diberikan secara penuh dari semester tiga sampai dengan semester ke
delapan atau sampai mahasiswa menyelesaikan kuliahnya;
j. Beasiswa
Gudang Garam memberikan bantuan sebesar Rp. 750.000,- (tujuh ratus lima
puluhribu rupiah); tiap semester
k. Beasiswa
Gudang Garam hanya memberikan bantuan selama satu tahun kepada setiap mahasiswa
l. Beasiswa
BLU memberikan bantuan sebesar Rp. 500.000,- (lima ratus ribu rupiah) setiap
semester;
m. Beasiswa
BLU hanya memberikan bantuan selama satu tahun kepada setiap mahasiswa.
3.
Pengembangan
Proses Hirarki Keputusan
Tahapan selanjutnya
adalah membangun proses hirarki pengambilan
keputusan penetapan pemberian beasiswa. Pengembangan model proses
hirarki didasarkan pada aturan sebagai berikut:
a. Beasiswa
di urutkan (rangking) berdasarkan besaran jangka waktu (periode) pemberian dan
besaran nominal bantuan tiap periode;
b. Semakin
banyak periode yang diberikan dan semakin besar nominal bantuan semakin tinggi
prioritasnya;
c. Fakultas
tempat mahasiswa calon penerima beasiswa di rangking berdasarkan besaran jumlah
mahasiswa aktif
d. Pemeringkatan
dihitung berdasarkan prosentase mahasiswa aktif terhadap jumlah mahasiswa
secara keseluruhan
e. Semakin
tinggi prosentase fakultas semakin besar peluang jumlah mahasiswa yang akan
menjadi calon penerima bantuan beasiswa;
f. Mahasiswa
diseleksi berdasarkan kemampuan ekonomi orang tua dan semester yang sedang
ditempuh;
g. Hanya
mahasiswa dengan penghasilan orang tua setiap bulannya rata-rata dibawah Rp.
1.500.000,- (satu juta lima ratus ribu rupiah) yang dapat diterima sebaga calon
penerima bantuan beasiswa;
h. Kriteria
ekonomi tersebut di atas di rangking berdasarkan penghasilan orang tua dan
tingkat semester yang sedang ditempuh.
i. Semakin
rendah kemampuan ekonominya dan semakin rendah tingkat semester yang sedang
ditempuh semakin besar peluang untuk diterima sebagai calon penerima bantuan
biasiswa
j. Hasil
dari pemeringkatan pada kriteria sebelumnya kemudian mahasiswa diseleksi
berdasarkan tingkat hasil belajarnya
k. Semakin
tinggi tingkat hasil belajarnya semakin besar peluang diterima calon penerima
bantuan beasiswa
Susunan
hirarki keputusan tersebut digambarkan sebagai berikut:
4.
Penggalian
sumber data (data mining)
Sumber data berasal
dari sumber dalam (internal) dan sumber luar. Sumber dari dalam diperoleh dari
data fakultas dan mahasiswa pada Sistem Informasi Akademik (SIAKAD). Dari data
Siakad dilakukan perintah query berdasarkan aturan hirarki yang sudah
dirumuskan sebelumnya. Sedangkan data eksternal diinputkan ke dalam sistem.
Hirarki data tersebut
adalah sebagaimana gambar berikut ini:
5.
Analisis
penetapan Hierarki
Pada uraian terdahulu
telah dituliskan tentang penyusunan hirarki dengan rumus n x [(n-1)/2], rumus
ini akan menghasilkan bilangan matrik yang kemudian akan dilanjutkan dengan
eigenvector, akan tetapi hal itu dilakukan jika setiap elemen berpeluang sama.
Akan tetapi setiap
variable beasiswa memiliki atribut yang berbeda yang tidak mungkin untuk
diperbandingkan satu dengan lainnya, sehingga penyusunan normalisasi prioritas
tidak menggunakan rumus tersebut di atas, melainkan dengan melalui penjumlahan
poin prioritas setiap atribut yang menyertai beasiswa. Oleh karena itu
penyusunan skala prioritas dirumuskan dengan rumus sebagai berikut:
Prioritas Beasiswa
(PB)= Prioritas Penerima Tiap Semester (S) + Kuota Penerima (K) + Besaran
Nominal Bantuan (N) :
PB = S + K + N (rumus
1)
Analisa dengan
menggunakan rumusan ini, sebagaimana pada tabel di bawah ini:
Tabel
1. Hasil Perhitungan Prioritas Beasiswa
Dalam tebel 1. Tersebut
dapat diketahui bahwa Beasiswa bidik misi (BS) merupakan prioritas utama yang
akan diberikan kepada mahasiswa (nilai 9), dikuti dengan Beasiswa Super Semar
(S), Gudang-Garam dan BLU, Dengan susunan prioritas sebagaimana dalam tabel 2
berikut ini
No
|
Beasiswa
|
Score
(prioritas)
|
1
|
Bidik Misi
(BS)
|
9
|
2
|
Supersemar (S)
|
8
|
3
|
Gudang Garam
(GG)
|
7
|
4
|
Badan Layanan
Umum
|
6
|
Tabel 2. Skor Beasiswa
Proses
perhitungan yang sama juga terjadi pada penentuan prioritas fakultas tempat
mahasiswa belajar. Penetapan prioritas berdasarkan prosentase mahasiswa aktif
tiap fakultas terhadap jumlah seluruh mahasiswa aktif. Perhitungan yang digunakan adalah Poin prioritas (P) = P%
=(Mahasiswa aktif/total mahasisa) X 100 dirumuskan sebagai berikut
P=P%= (MA/TM) x 100 (rumus 2)
Hasil dari rumusan tersebut
dapat dilihat pada tabel 3 berikut ini
Tabel
3. Prosentase mahasiwa aktif
Dari
hasil tabel 3 kemudian dihitung kembali untuk mendapatkan besaran jumlah
mahasiswa yang berpeluang mendapat beasiswa. Perhitungan yang dilakukan adalah
dengan prosentase yang diperoleh pada tabel 3 dikalikan dengan kuota yang
tersedia pada setiap beasiswa, dimana prosentase mahasiswa aktif dikalikan
dengan kuota beasiswa yang tersedia akan menghasilkan kuota mahasiwa yang akan
menerima beasiswa pada setiap fakultas, dan dirumuskan sebagai berikut
Kuota Fakultas (KF)=(Prosentase/100) x Kuota tiap Beasiswa (KB)
Kuota Fakultas (KF)=(Prosentase/100) x Kuota tiap Beasiswa (KB)
KF = P x KB (rumus
3)
Hasilnya adalah pada tabel 4 berikut ini
Beasiswa
|
Kuota
|
Tarbiyah
|
Ushuluddin
|
Syari'ah
|
Dakwah
|
S
|
100
|
45
|
9
|
27
|
18
|
BS
|
120
|
55
|
11
|
33
|
22
|
GG
|
250
|
114
|
23
|
68
|
45
|
BLU
|
500
|
227
|
45
|
136
|
91
|
TOTAL
|
970
|
441
|
88
|
265
|
176
|
Tabel 4 Kuota beasiswa tiap
fakultas
Pada tabel di atas
diperoleh hasil bahwa Fakultas Tarbiyah mendapat peluang yang lebih besar
diikuti oleh Syar’ah, Dakwah dan Ushuluddin. Hasil tersebut merupakan
distribusi peluang perolehan beasiswa yang sesuai dengan jumlah mahasiswa aktif
pada tiap fakultas.
Untuk mengisi peluang
tersebut pada tabel 4 pada tiap fakultas akan melakukan pemilihan mahasiswa,
agar obyektifitas tercapai, maka diperlukan kriteria untuk membangun sistem,
beasiswa hanya diberikan kepada mahasiswa dengan ketentuan:
1.
Penghasilan orang tua kurang dari atau
sama dengan Rp. 1500.000,-
2.
Mahasiswa dapat menerima beasiswa berada
pada semester I sampai dengan VIII;
3.
Memiliki prestasi akademik yang baik.
4.
Tidak sedang menerima beasiswa apapun
Dari hasil persaratan tersebut maka
dilakukan penyusunan skala prioritas dan pemberian point (bobot), hasilnya pada
tabel 5 dibawah ini.
Tabel
5. Skala prioritas kondisi mahasiswa
Dari tabel 5 di atas
diketahui bahwa program beasiswa diprioritaskan untuk mahasiswa dengan
penghasilan terendah pada semester awal dan memiliki prestasi akademik terbaik,
hal ini dibuktikan dengan perolehan skor sebesar 12 point. Sedangkan prioritas
terakhir diberikan kepada mahasiswa tingkat akhir dengan penghasilan orang tua
yang paling tinggi (untuk kategori tidak mampu) dan memiliki prestasi akademik
yang rendah, hal ini dibuktikan dengan perolehan skor yang rendah (3).
Rancang
Bangun Sistem
Sistem pendukung
keputusan pemberian beasiswa merupakan salah satu subsistem dalam SIAKAD, oleh
karena itu sistem ini dibangun sesuai dengan perangkat yang digunakan oleh
SIAKAD. SIAKAD IAIN Raden Intan Lampung menggunakan Web base sistem, dengan
bahasa pemrograman PHP, penyimpanan database Mysql, Web Server menggunakan
Apache dan sistem operasi berbasis linux. Dengan demikian sistem ini
menggunakan bahasa pemrograman PHP dan Mysql sebagai storage database system.
Rancang Bangun Sistem dapat dilihat pada
gambar 3 berikut ini
Diagram diatas menjelaskan sebagai
berikut:
1.
Bagian Akademik (BAK) memasukkan
kriteria calon penerima beasiswa dan kuota beasiswa
2.
Mahasiswa melakukan pendaftaran
3.
Sistem akan mencari data pendaftar, yang
meliputi data mahasiswa, data orang tua, data hasil studi, dan data fakultas.
Kemudian sistem akan mencari kuota beasiswa berdasarkan kriteria yang didapat
dari data mahasiswa, jika kuota masih terbuka maka sistem akan memberi tahu
bahwa mahasiswa diterima sebagai penerima beasiswa yang berasal dari donatur
sesuai dengan kriteria yang ada.
4.
Jika kuota telah terpenuhi, maka sistem
memberi tahu bahwa beasiswa untuk mahasiswa dengan kriteria pendaftar telah penuh.
5.
Bagian akademik rektoran dan fakultas
mengakses daftar penerima beasiswa.
VI.
Penutup
1.
Kesimpulan
Dari
hasil analisis diatas dapat disimpulkan bahwa:
a. Analytical Hierarchie Process (AHP)
dapat digunakan untuk mendukung keputusan pemberian beasiswa;
b. Penetapan
prioritas dapat dilakukan dengan tidak menggunakan analisa vektor dan
penggunaan eigenvector tetapi tingkat akurasinya perlu penelitian lebih dalam.
2. Saran:
Penelitian lebih dalam
dengan menggunakan analisa vektor dan penggunaan eigenvector sangat dianjurkan.
[1] Bounds,
Gregory. 1994. “Management: A Total Quality Perpective”, South Western College
Publishing, Ohio.
[2] Marek J.
Druzdzel and Roger R. Flynn,2002. “Decision Support Systems”, University of
Pittsburgh Pittsburgh, PA
[3] Turban,
Efraim; Aronson, Jay; Liang Peng Ting. 2005. Decision Support Systems and
Intellegent Systems.
New Jersey : Pearson Education, Inc.
[4] McLeod,
Raymon. 2004. Management Information Systems. 9th Edition, New Jersey :
Prentice Hall, Inc.
[5] http://expert
choice.com/customers/client list.htm







Tidak ada komentar:
Posting Komentar