Senin, 13 April 2015

Decision Support System: makalah

Analisa dan Perancangan Sistem Pendukung Pengambilan KeputusanPemberian Beasiswa Mahasiswa Tidak Mampu
dan Berprestasi Pada IAIN Raden Intan Lampung

      Latar Belakang Masalah
Secara umum, teknologi informasi mencakup tiga hal, yaitu management information system, processing information system, decision information system. Teknologi informasi organisasi berfungsi memperlancar dalam perolehan dan penyimpanan data, yang dengan menggunakan berbagai fungsi software, selanjutnya dapat diinterpretasi dan ditransformasi menjadi informasi yang bermakna, dan memungkinkan transmisi informasi ini kepada para pengguna sehingga membantu mereka untuk mencapai tujuan dan sasaran organisasi[1].
Teknologi Informasi memberikan bantuan kepada manusia dalam melakukan proses komputasi terhadap permasalahan yang dihadapi sehingga permasalahan itu dapat diselesaikan dengan lebih cepat dan akurat. Aplikasi teknologi informasi antara lain digunakan pada proses manajemen organisasi. Salah satu kegunaan teknologi informasi pada proses manajemen adalah dengan diterapkannya sistem pendukung pengambilan keputusan atau Decision Support system (DSS)
Sistem pengambilan keputusan berbantuan komputer adalah bentuk interaktif yang membantu pengguna dalam kegiatan penilaian dan pemilihan. Memberikan penyimpanan data dan menemukannya kembali namun meningkatkan akses informasi secara tradisional dan fungsi-fungsi penemuan dengan dukungan untuk mengembangkan model dan model berbasis penalaran. Mereka mendukung pembentukan frame-frame, pembuatan model dan pemecahan masalah[2].
Proses pemberian beasiswa bagi mahasiswa tidak mampu dan berprestasi merupakan kegiatan untuk menetapkan sejumlah mahasiswa yang dapat diberikan beasiswa yang bersumber dari beberapa donatur. Jumlah mahasiswa yang dapat menerima bantuan beasiswa melebihi batas kemampuan kuota yang disediakan oleh donatur. Sehingga tidak semua mahasiswa memperoleh beasiswa, melainkan hanya sejumlah mahasiswa yang dapat menerimanya.

II.  Permasalahan
Dari uraian di atas maka permasalahan yang harus dipecahkan adalah: Bagaimana memberikan beasiswa kepada mahasiswa sesuai dengan kemampuan donatur.
Bagimana teknologi informasi dapat membantu memecahkan masalah pemberian beasiswa dengan berbasis Decision Support System?

           III. Batasan Masalah
Masalah yang akan dibahas dalam tulisan ini dibatasi pada:Bagaimankah Model AHP (analitycal hierarchie process) dapat memberikan bantuan dalam menetapkan pemberian beasiswa?

IV Landasan Teori
Pengambilan keputusan adalah pemilihan beberapa tindakan alternatif yang ada untuk mencapai satu atau beberapa tujuan yang telah ditetapkan[3]. Sistem pendukung keputusan adalah suatu sistem berbasis komputer yang menghasilkan berbagai alternatif keputusan untuk membantu manajemen dalam menangani berbagai permasalahan yang terstruktur ataupun tidak terstruktur dengan menggunakan data dan model[4] (McLeod, 2004).
Menurut Turban (2005), komponen Sistem Pengambilan Keputusan dapat dibangun dari subsistem berikut ini, dapat dilihat pada Gambar 1. :

  1.     Subsistem Manajemen Data (Data Management Subsystem), meliputi basis data – basis data yang berisi data yang relevan dengan keadaan dan dikelola software yang disebut DBMS (Database Management System).
  2.     Subsistem Manajemen Model (Model Management Subsystem), berupa sebuah paket software yang berisi model-model finansial, statistik, management science, atau model kwantitatif, yang menyediakan kemampuan analisa dan software management yang sesuai.
  3.        Subsistem Manajemen Pengetahuan (Knowledge Management Subsystem), merupakan subsistem (optional) yang dapat mendukung subsistem lain atau berlaku sebagai komponen yang berdiri sendiri (independent).
  4.        Subsistem Antarmuka Pengguna (User Interface Subsystem), merupakan subsistem yang dapat dipakai oleh user untuk berkomunikasi dan memberi perintah (menyediakan user interface).
  5.         Pengguna (user), termasuk di dalamnya adalah pengguna (user), manager, dan pengambil keputusan

 A.    Analitycal Hierarchi Process (AHP)
Menurut Turban (2005), Analytical Hierarcy Process (AHP) adalah suatu metode analisis dan sintesis yang dapat membantu proses Pengambilan Keputusan. AHP merupakan alat pengambil keputusan yang powerful dan fleksibel, yang dapat membantu dalam menetapkan prioritas-prioritas dan membuat keputusan di mana aspek-aspek kualitatif dan kuantitatif terlibat dan keduanya harus dipertimbangkan. Dengan mereduksi faktor-faktor yang kompleks menjadi rangkaian “one on one comparisons” dan kemudian mensintesa hasil-hasilnya, maka AHP tidak hanya membantu orang dalam memilih keputusan yang tepat, tetapi juga dapat memberikan pemikiran/alasan yang jelas dan tepat.
AHP sangat cocok dan flexibel digunakan untuk menentukan keputusan yang menolong seorang decision maker untuk mengambil keputusan yang kualitatif dan kuantitatif berdasarkan segala aspek yang dimilikinya. Kelebihan lain dari AHP adalah dapat memberikan gambaran yang jelas dan rasional kepada
decision maker tentang keputusan yang dihasilkan[5].

1.     Jenis-jenis AHP
a.   Single-kriteria
Pilih satu alternatif dengan satu kriteria, Pengambilan keputusan yang melibatkan satu/lebih alternatif dengan satu kriteria.
b.   Multi-kriteria
Pengambilan keputusan yang melibatkan satu/lebih alternatif dengan lebih dari satu kriteria Pilih satu alternatif dengan banyak kriteria

AHP sering digunakan sebagai metode pemecahan masalah dibanding dengan metode yang lain karena alasan-alasan sebagai berikut :
a.    Struktur yang berhirarki, sebagai konsekuesi dari kriteria yang dipilih, sampai pada subkriteria yang paling dalam.
b.   Memperhitungkan validitas sampai dengan batas toleransi inkonsistensi berbagai kriteria dan alternatif yang dipilih oleh pengambil keputusan.
c.    Memperhitungkan daya tahan output analisis sensitivitas pengambilan keputusan.

2.     Kelebihan dan Kekurangan AHP
Layaknya sebuah metode analisis, AHP pun memiliki kelebihan dan kelemahan dalam system analisisnya. Kelebihan-kelebihan analisis ini adalah :
a.    Kesatuan (Unity) AHP membuat permasalahan yang luas dan tidak terstruktur menjadi suatu model yang fleksibel dan mudah dipahami.
b.   Kompleksitas (Complexity) AHP memecahkan permasalahan yang kompleks melalui pendekatan sistem dan pengintegrasian secara deduktif.
c.    Saling ketergantungan (Inter Dependence) AHP dapat digunakan pada elemen-elemen sistem yang saling bebas dan tidak memerlukan hubungan linier.
d.   Struktur Hirarki (Hierarchy Structuring) AHP mewakili pemikiran alamiah yang cenderung mengelompokkan elemen sistem ke level-level yang berbeda dari masing-masing level berisi elemen yang serupa.
e.    Pengukuran (Measurement) AHP menyediakan skala pengukuran dan metode untuk mendapatkan prioritas.
f.    Konsistensi (Consistency) AHP mempertimbangkan konsistensi logis dalam penilaian yang digunakan untuk menentukan prioritas.
g.   Sintesis (Synthesis) AHP mengarah pada perkiraan keseluruhan mengenai seberapa diinginkannya masing-masing alternatif.
h.   Trade Off AHP mempertimbangkan prioritas relatif faktor-faktor pada sistem sehingga orang mampu memilih altenatif terbaik berdasarkan tujuan mereka.
i.     Penilaian dan Konsensus (Judgement and Consensus) AHP tidak mengharuskan adanya suatu konsensus, tapi menggabungkan hasil penilaian yang berbeda.
j.     Pengulangan Proses (Process Repetition) AHP mampu membuat orang menyaring definisi dari suatu permasalahan dan mengembangkan penilaian serta pengertian mereka melalui proses pengulangan.

Sedangkan kelemahan metode AHP adalah sebagai berikut:
a.    Ketergantungan model AHP pada input utamanya. Input utama ini berupa persepsi seorang ahli sehingga dalam hal ini melibatkan subyektifitas sang ahli selain itu juga model menjadi tidak berarti jika ahli tersebut memberikan penilaian yang keliru.
b.    Metode AHP ini hanya metode matematis tanpa ada pengujian secara statistik sehingga tidak ada batas kepercayaan dari kebenaran model yang terbentuk.
3.     Langkah-Langkah penerapan AHP
Dalam metode AHP dilakukan langkah-langkah sebagai berikut (Kadarsyah Suryadi dan Ali Ramdhani, 1998) :
a.    Mendefinisikan masalah dan menentukan solusi yang diinginkan. Dalam tahap ini kita berusaha menentukan masalah yang akan kita pecahkan secara jelas, detail dan mudah dipahami. Dari masalah yang ada kita coba tentukan solusi yang mungkin cocok bagi masalah tersebut. Solusi dari masalah mungkin berjumlah lebih dari satu. Solusi tersebut nantinya kita kembangkan lebih lanjut dalam tahap berikutnya
b.    Membuat struktur hierarki yang diawali dengan tujuan utama. Setelah menyusun tujuan utama sebagai level teratas akan disusun level hirarki yang berada di bawahnya yaitu kriteria-kriteria yang cocok untuk mempertimbangkan atau menilai alternatif yang kita berikan dan menentukan alternatif tersebut. Tiap kriteria mempunyai intensitas yang berbeda-beda. Hirarki dilanjutkan dengan subkriteria (jika mungkin diperlukan).
c.    Membuat matrik perbandingan berpasangan yang menggambarkan kontribusi relatif atau pengaruh setiap elemen terhadap tujuan atau kriteria yang setingkat di atasnya. Matriks yang digunakan bersifat sederhana, memiliki kedudukan kuat untuk kerangka konsistensi, mendapatkan informasi lain yang mungkin dibutuhkan dengan semua perbandingan yang mungkin dan mampu menganalisis kepekaan prioritas secara keseluruhan untuk perubahan pertimbangan. Pendekatan dengan matriks mencerminkan aspek ganda dalam prioritas yaitu mendominasi dan didominasi. Perbandingan dilakukan berdasarkan judgment dari pengambil keputusan dengan menilai tingkat kepentingan suatu elemen dibandingkan elemen lainnya. Untuk memulai proses perbandingan berpasangan dipilih sebuah kriteria dari level paling atas hirarki misalnya K dan kemudian dari level di bawahnya diambil elemen yang akan dibandingkan misalnya E1,E2,E3,E4,E5.
d.    Melakukan Mendefinisikan perbandingan berpasangan sehingga diperoleh jumlah penilaian seluruhnya sebanyak n x [(n-1)/2] buah, dengan n adalah banyaknya elemen yang dibandingkan. Hasil perbandingan dari masing-masing elemen akan berupa angka dari 1 sampai 9 yang menunjukkan perbandingan tingkat kepentingan suatu elemen. Apabila suatu elemen dalam matriks dibandingkan dengan dirinya sendiri maka hasil perbandingan diberi nilai 1. Skala 9 telah terbukti dapat diterima dan bisa membedakan intensitas antar elemen. Hasil perbandingan tersebut diisikan pada sel yang bersesuaian dengan elemen yang dibandingkan. Skala perbandingan perbandingan berpasangan dan maknanya yang diperkenalkan oleh Saaty bisa dilihat di bawah.
e.    Menghitung nilai eigen dan menguji konsistensinya. Jika tidak konsisten maka pengambilan data diulangi.
f.     Mengulangi langkah 3,4, dan 5 untuk seluruh tingkat hirarki.
g.    Menghitung vektor eigen dari setiap matriks perbandingan berpasangan yang merupakan bobot setiap elemen untuk penentuan prioritas elemen-elemen pada tingkat hirarki terendah sampai mencapai tujuan. Penghitungan dilakukan lewat cara menjumlahkan nilai setiap kolom dari matriks, membagi setiap nilai dari kolom dengan total kolom yang bersangkutan untuk memperoleh normalisasi matriks, dan menjumlahkan nilai-nilai dari setiap baris dan membaginya dengan jumlah elemen untuk mendapatkan rata-rata.
h.   Memeriksa konsistensi hirarki. Yang diukur dalam AHP adalah rasio konsistensi dengan melihat index konsistensi. Konsistensi yang diharapkan adalah yang mendekati sempurna agar menghasilkan keputusan yang mendekati valid. Walaupun sulit untuk mencapai yang sempurna, rasio konsistensi diharapkan kurang dari atau sama dengan 10 %.
 4.     Prinsip Dasar dan Aksioma AHP
AHP didasarkan atas 3 prinsip dasar yaitu:
a.      Dekomposisi
Dengan prinsip ini struktur masalah yang kompleks dibagi menjadi bagian-bagian secara hierarki. Tujuan didefinisikan dari yang umum sampai khusus. Dalam bentuk yang paling sederhana struktur akan dibandingkan tujuan, kriteria dan level alternatif. Tiap himpunan alternatif mungkin akan dibagi lebih jauh menjadi tingkatan yang lebih detail, mencakup lebih banyak kriteria yang lain. Level paling atas dari hirarki merupakan tujuan yang terdiri atas satu elemen. Level berikutnya mungkin mengandung beberapa elemen, di mana elemen-elemen tersebut bisa dibandingkan, memiliki kepentingan yang hampir sama dan tidak memiliki perbedaan yang terlalu mencolok. Jika perbedaan terlalu besar harus dibuatkan level yang baru. 
b.     Perbandingan penilaian/pertimbangan (comparative judgments).
Dengan prinsip ini akan dibangun perbandingan berpasangan dari semua elemen yang ada dengan tujuan menghasilkan skala kepentingan relatif dari elemen. Penilaian menghasilkan skala penilaian yang berupa angka. Perbandingan berpasangan dalam bentuk matriks jika dikombinasikan akan menghasilkan prioritas.
c.      Sintesa Prioritas
Sintesa prioritas dilakukan dengan mengalikan prioritas lokal dengan prioritas dari kriteria bersangkutan di level atasnya dan menambahkannya ke tiap elemen dalam level yang dipengaruhi kriteria. Hasilnya berupa gabungan atau dikenal dengan prioritas global yang kemudian digunakan untuk memboboti prioritas lokal dari elemen di level terendah sesuai dengan kriterianya.

AHP didasarkan atas 3 aksioma utama yaitu :
a.      Aksioma Resiprokal Aksioma ini menyatakan jika PC (EA,EB) adalah sebuah perbandingan berpasangan antara elemen A dan elemen B, dengan memperhitungkan C sebagai elemen parent, menunjukkan berapa kali lebih banyak properti yang dimiliki elemen A terhadap B, maka PC (EB,EA)= 1/ PC (EA,EB). Misalnya jika A 5 kali lebih besar daripada B, maka B=1/5 A. 
b.      Aksioma Homogenitas Aksioma ini menyatakan bahwa elemen yang dibandingkan tidak berbeda terlalu jauh. Jika perbedaan terlalu besar, hasil yang didapatkan mengandung nilai kesalahan yang tinggi. Ketika hirarki dibangun, kita harus berusaha mengatur elemenelemen agar elemen tersebut tidak menghasilkan hasil dengan akurasi rendah dan inkonsistensi tinggi.
c.  Aksioma Ketergantungan Aksioma ini menyatakan bahwa prioritas elemen dalam hirarki tidak bergantung pada elemen level di bawahnya. Aksioma ini membuat kita bisa menerapkan prinsip komposisi hirarki.

V. Aplikasi AHP pada penetapan Beasiswa
1. Konteks Masalah
Penetapan beasiswa bagi mahasiswa tidak mampu dan berprestasi diberikan kepada mahasisa yang secara ekonomi digolongkan tidak mampu namun memiliki prestasi akademik yang baik.  Mahasiswa tersebut tersebar di 4 (empat) fakultas dengan kemampuan ekonomi yang beragam dan tingkat perolehan hasil belajar yang bervariasi. Sedangkan sumber dana beasiswa berasal dari 4 (empat) sumber, yaitu Bidik Misi, Supersemar, Gudang Garam, dan Beasiswa Institusi Lokal (BLU=Badan Layanan Umum), dimana setiap sumber beasiswa membatasi jumlah mahasiswa yang dapat diberi beasiswa dan besaran beasiswa yang diberikan juga bervariasi.
           2.     Dekomposisi Masalah
Dari konteks masalah tersebut dapatlah dilakukan dekomposisi sebagai berikut:
a.      Mahasiswa terebar dalam 4 (empat) fakultas
b.      Setiap Mahasiswa Tidak Mampu dapat diberi beasiswa;
c.      Setiap Mahasiswa Berprestasi dapat diberi beasiswa
d.      Beasiswa yang tersedia berasal dari 4 (sumber)
e.      Beasiswa Bidik Misi memberikan bantuan sebesar Rp 1.500.000,- (satu juta lima ratus ribu rupiah) setiap semester
f.       Beasiswa Bidik Misi hanya diberikan kepada mahasiswa sampai dengan semester IV
g.      Beasiswa Bidik Misi memberikan fasilitas bantuan asrama untuk mahasiswa yang jauh dari tempat tinggalnya.
h.     Beasiswa Supersemar memberikan bantuan sebesar Rp. 1.000.000,- (satu juta rupiah) setiap semester
i.       Beasiswa supersemar diberikan secara penuh dari semester tiga sampai dengan semester ke delapan atau sampai mahasiswa menyelesaikan kuliahnya;
j.       Beasiswa Gudang Garam memberikan bantuan sebesar Rp. 750.000,- (tujuh ratus lima puluhribu rupiah); tiap semester
k.      Beasiswa Gudang Garam hanya memberikan bantuan selama satu tahun kepada setiap mahasiswa
l.       Beasiswa BLU memberikan bantuan sebesar Rp. 500.000,- (lima ratus ribu rupiah) setiap semester;
m.    Beasiswa BLU hanya memberikan bantuan selama satu tahun kepada setiap mahasiswa.

          3.     Pengembangan Proses Hirarki Keputusan
Tahapan selanjutnya adalah membangun proses hirarki pengambilan  keputusan penetapan pemberian beasiswa. Pengembangan model proses hirarki didasarkan pada aturan sebagai berikut:
a.      Beasiswa di urutkan (rangking) berdasarkan besaran jangka waktu (periode) pemberian dan besaran nominal bantuan tiap periode;
b.      Semakin banyak periode yang diberikan dan semakin besar nominal bantuan semakin tinggi prioritasnya;
c.      Fakultas tempat mahasiswa calon penerima beasiswa di rangking berdasarkan besaran jumlah mahasiswa aktif
d.      Pemeringkatan dihitung berdasarkan prosentase mahasiswa aktif terhadap jumlah mahasiswa secara keseluruhan
e.      Semakin tinggi prosentase fakultas semakin besar peluang jumlah mahasiswa yang akan menjadi calon penerima bantuan beasiswa;
f.       Mahasiswa diseleksi berdasarkan kemampuan ekonomi orang tua dan semester yang sedang ditempuh;
g.      Hanya mahasiswa dengan penghasilan orang tua setiap bulannya rata-rata dibawah Rp. 1.500.000,- (satu juta lima ratus ribu rupiah) yang dapat diterima sebaga calon penerima bantuan beasiswa;
h.     Kriteria ekonomi tersebut di atas di rangking berdasarkan penghasilan orang tua dan tingkat semester yang sedang ditempuh.
i.       Semakin rendah kemampuan ekonominya dan semakin rendah tingkat semester yang sedang ditempuh semakin besar peluang untuk diterima sebagai calon penerima bantuan biasiswa
j.       Hasil dari pemeringkatan pada kriteria sebelumnya kemudian mahasiswa diseleksi berdasarkan tingkat hasil belajarnya
k.      Semakin tinggi tingkat hasil belajarnya semakin besar peluang diterima calon penerima bantuan beasiswa

Susunan hirarki keputusan tersebut digambarkan sebagai berikut:
 


      4.     Penggalian sumber data (data mining)
Sumber data berasal dari sumber dalam (internal) dan sumber luar. Sumber dari dalam diperoleh dari data fakultas dan mahasiswa pada Sistem Informasi Akademik (SIAKAD). Dari data Siakad dilakukan perintah query berdasarkan aturan hirarki yang sudah dirumuskan sebelumnya. Sedangkan data eksternal diinputkan ke dalam sistem.
Hirarki data tersebut adalah sebagaimana gambar berikut ini:


        5.     Analisis penetapan Hierarki
Pada uraian terdahulu telah dituliskan tentang penyusunan hirarki dengan rumus n x [(n-1)/2], rumus ini akan menghasilkan bilangan matrik yang kemudian akan dilanjutkan dengan eigenvector, akan tetapi hal itu dilakukan jika setiap elemen berpeluang sama.
Akan tetapi setiap variable beasiswa memiliki atribut yang berbeda yang tidak mungkin untuk diperbandingkan satu dengan lainnya, sehingga penyusunan normalisasi prioritas tidak menggunakan rumus tersebut di atas, melainkan dengan melalui penjumlahan poin prioritas setiap atribut yang menyertai beasiswa. Oleh karena itu penyusunan skala prioritas dirumuskan dengan rumus sebagai berikut:
Prioritas Beasiswa (PB)= Prioritas Penerima Tiap Semester (S) + Kuota Penerima (K) + Besaran Nominal Bantuan (N) :
PB = S + K + N                                                                       (rumus 1)
Analisa dengan menggunakan rumusan ini, sebagaimana pada tabel di bawah ini:
Tabel 1. Hasil Perhitungan Prioritas Beasiswa
Dalam tebel 1. Tersebut dapat diketahui bahwa Beasiswa bidik misi (BS) merupakan prioritas utama yang akan diberikan kepada mahasiswa (nilai 9), dikuti dengan Beasiswa Super Semar (S), Gudang-Garam dan BLU, Dengan susunan prioritas sebagaimana dalam tabel 2 berikut ini
No
Beasiswa
Score (prioritas)
1
Bidik Misi (BS)
9
2
Supersemar (S)
8
3
Gudang Garam (GG)
7
4
Badan Layanan Umum
6
Tabel 2. Skor Beasiswa
Proses perhitungan yang sama juga terjadi pada penentuan prioritas fakultas tempat mahasiswa belajar. Penetapan prioritas berdasarkan prosentase mahasiswa aktif tiap fakultas terhadap jumlah seluruh mahasiswa aktif. Perhitungan yang  digunakan adalah Poin prioritas (P) = P% =(Mahasiswa aktif/total mahasisa) X 100 dirumuskan sebagai berikut
P=P%= (MA/TM) x 100                                                                                 (rumus 2)
Hasil dari rumusan tersebut dapat dilihat pada tabel 3 berikut ini


Tabel 3. Prosentase mahasiwa aktif

Dari hasil tabel 3 kemudian dihitung kembali untuk mendapatkan besaran jumlah mahasiswa yang berpeluang mendapat beasiswa. Perhitungan yang dilakukan adalah dengan prosentase yang diperoleh pada tabel 3 dikalikan dengan kuota yang tersedia pada setiap beasiswa, dimana prosentase mahasiswa aktif dikalikan dengan kuota beasiswa yang tersedia akan menghasilkan kuota mahasiwa yang akan menerima beasiswa pada setiap fakultas, dan dirumuskan sebagai berikut
Kuota Fakultas (KF)=(Prosentase/100) x Kuota tiap Beasiswa (KB)
KF = P x KB                                                                                                   (rumus 3)
Hasilnya adalah pada tabel 4 berikut ini
Beasiswa
Kuota
Tarbiyah
Ushuluddin
Syari'ah
Dakwah
S
100
45
9
27
18
BS
120
55
11
33
22
GG
250
114
23
68
45
BLU
500
227
45
136
91
TOTAL
970
441
88
265
176

Tabel 4 Kuota beasiswa tiap fakultas

Pada tabel di atas diperoleh hasil bahwa Fakultas Tarbiyah mendapat peluang yang lebih besar diikuti oleh Syar’ah, Dakwah dan Ushuluddin. Hasil tersebut merupakan distribusi peluang perolehan beasiswa yang sesuai dengan jumlah mahasiswa aktif pada tiap fakultas.
Untuk mengisi peluang tersebut pada tabel 4 pada tiap fakultas akan melakukan pemilihan mahasiswa, agar obyektifitas tercapai, maka diperlukan kriteria untuk membangun sistem, beasiswa hanya diberikan kepada mahasiswa dengan ketentuan:
1.     Penghasilan orang tua kurang dari atau sama dengan Rp. 1500.000,-
2.     Mahasiswa dapat menerima beasiswa berada pada semester I sampai dengan VIII;
3.     Memiliki prestasi akademik yang baik.
4.     Tidak sedang menerima beasiswa apapun
Dari hasil persaratan tersebut maka dilakukan penyusunan skala prioritas dan pemberian point (bobot), hasilnya pada tabel 5 dibawah ini.


Tabel 5. Skala prioritas kondisi mahasiswa

Dari tabel 5 di atas diketahui bahwa program beasiswa diprioritaskan untuk mahasiswa dengan penghasilan terendah pada semester awal dan memiliki prestasi akademik terbaik, hal ini dibuktikan dengan perolehan skor sebesar 12 point. Sedangkan prioritas terakhir diberikan kepada mahasiswa tingkat akhir dengan penghasilan orang tua yang paling tinggi (untuk kategori tidak mampu) dan memiliki prestasi akademik yang rendah, hal ini dibuktikan dengan perolehan skor yang rendah (3).
Rancang Bangun Sistem
Sistem pendukung keputusan pemberian beasiswa merupakan salah satu subsistem dalam SIAKAD, oleh karena itu sistem ini dibangun sesuai dengan perangkat yang digunakan oleh SIAKAD. SIAKAD IAIN Raden Intan Lampung menggunakan Web base sistem, dengan bahasa pemrograman PHP, penyimpanan database Mysql, Web Server menggunakan Apache dan sistem operasi berbasis linux. Dengan demikian sistem ini menggunakan bahasa pemrograman PHP dan Mysql sebagai storage database system.
Rancang Bangun Sistem dapat dilihat pada gambar 3 berikut ini



Diagram diatas menjelaskan sebagai berikut:
1.     Bagian Akademik (BAK) memasukkan kriteria calon penerima beasiswa dan kuota beasiswa
2.     Mahasiswa melakukan pendaftaran
3.     Sistem akan mencari data pendaftar, yang meliputi data mahasiswa, data orang tua, data hasil studi, dan data fakultas. Kemudian sistem akan mencari kuota beasiswa berdasarkan kriteria yang didapat dari data mahasiswa, jika kuota masih terbuka maka sistem akan memberi tahu bahwa mahasiswa diterima sebagai penerima beasiswa yang berasal dari donatur sesuai dengan kriteria yang ada.
4.     Jika kuota telah terpenuhi, maka sistem memberi tahu bahwa beasiswa untuk mahasiswa dengan kriteria pendaftar telah penuh.
5.     Bagian akademik rektoran dan fakultas mengakses daftar penerima beasiswa.

VI. Penutup
         1.     Kesimpulan
Dari hasil analisis diatas dapat disimpulkan bahwa:
a.  Analytical Hierarchie Process (AHP) dapat digunakan untuk mendukung keputusan pemberian beasiswa;
b.  Penetapan prioritas dapat dilakukan dengan tidak menggunakan analisa vektor dan penggunaan eigenvector tetapi tingkat akurasinya perlu penelitian lebih dalam.
         2.     Saran:
Penelitian lebih dalam dengan menggunakan analisa vektor dan penggunaan eigenvector sangat dianjurkan.




[1] Bounds, Gregory. 1994. “Management: A Total Quality Perpective”, South Western College Publishing, Ohio.
[2] Marek J. Druzdzel and Roger R. Flynn,2002. “Decision Support Systems”, University of Pittsburgh Pittsburgh, PA
[3] Turban, Efraim; Aronson, Jay; Liang Peng Ting. 2005. Decision Support Systems and Intellegent Systems.
New Jersey : Pearson Education, Inc.
[4] McLeod, Raymon. 2004. Management Information Systems. 9th Edition, New Jersey : Prentice Hall, Inc.
[5] http://expert choice.com/customers/client list.htm

Tidak ada komentar:

Posting Komentar