Latar
belakang
Internet
dewasa ini sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari baik sebagai sarana
mencari pengetahuan maupun upaya mempromosikan diri, ataupun sebagai sarana
hiburan. Bagi sebagian orang, internet memberikan informasi yang berharga yang
dibutuhkannya. Hal ini diperoleh melalui web server yang menyediakan serfis
layanan ilmu pengethuan dan teknologi dan dengan mudah di dapat melalu mesin
pencari seperti google cendekia (scholar). Bagi sebagian yang lain telah
menyadari bahwa ada demand yang cukup baik dari masyarakat untuk mendapatkan
informasi melalui internet, sehingga kemudian turut serta aktif dalam dunia
maya melalui web hosting untuk memperkenalkan diri agar diketahui oleh
masyarakat yang lebih luas. Sementara sebagian yang lainnya lagi menggunakan
internet untuk menghibur diri yaitu dengan melalui game online, nonton filem,
nonton tv dan menikmati video kiriman.
Kenyataan
di atas memberikan deskripsi bahwa terdapat interaksi sosial yang berlangsung
dalam dunia maya yang tersegmentasi oleh kondisi sosial pada senyatanya.
Perasaan yang hampir sama bila kita berkunjung sebuah pasar, maka kita akan
menemukan interaksi sosial berdasarkan kebutuhan dan layanan yang disediakan
oleh operator pasar. Artinya internet menyediakan sesuatu yang dibutuhkan oleh
manusia berupa informasi seluas kebutuhan itu sendiri. Bayangkan jika kita
pergi ke suatu Mall dan kita temui suasana yang
tidak tertata rapi, tanpa petunjuk tempat barang dijual, tanpa petunjuk
harga per item barang, pasti akan menemui banyak kesulitan.
Untuk
itu diperlukan penataan informasi dalam sebuah web site. Penataan yang
memudahkan pengguna untuk mendapatkan apa yang diperlukannya. Iniliah yang
dimaksud dengan arsitektur informasi pada website.
Pengertian
Arsitektur
Informasi, merupakan terminologi yang didapat dari dua kata yaitu Arsitektur
dan Informasi. Arsitektur lebih dikenal terlebih dahulu pada dunia tekhnik
sipil (bangunan), kemudian di adopsi ke dalam sistem informasi menjadi
arsitektur enterprise, lalu dipersempit lagi ke dalam arsitektur informasi
untuk menunjuk website.
Arsitektur berasal dari bahasa Yunani (greek),
yaitu “arsi” yang berarti “kepala” dan “tektur” yang berarti “pembangunan,
tukang kayu,tukang, yaitu proses dan produk perencanaan, rancangan dan
konstruksi[1].
Arsitektur juga dapat dipahami sebagai seni dan praktek merancang dan membangun
gedung-gedung[2],
atau diartikan sebagai campuran dari imajinasi, seni dan ilmu dalam desain
lingkungan bagi manusia[3].
Informasi
diartikan sebagai pesan (ucapan atau
ekspresi) atau kumpulan pesan yang terdiri dari order sekuens dari simbol, atau makna yang dapat ditafsirkan dari pesan atau kumpulan pesan[4],
dan dapat pula di pahami sebagai data yang berasal dari fakta yang tercatat dan
selanjutnya dilakukan pengolahan (proses) menjadi bentuk yang berguna atau
bermanfaat bagi pemakainya[5]. Informasi juga dapat
didefenisikan sebagai hasil dari pengolahan data dalam suatu bentuk yang lebih
berguna dan lebih berarti bagi penerimanya yang menggambarkan suatu
kejadian-kejadian (event) yang nyata (fact) yang digunakan untuk
pengambilan keputusan[6].
Dari pengertian diatas dapat disusun sebuah
konsep tentang arsitektur informasi sebagai rancang bangun aliran dan
pengolahan data dan fakta sehingga memiliki nilai guna dan manfaat bagi
pemakainya. Andrew Dillion (2002) menjelaskan Arsitektur Informasi sebagai istilah
yang digunakan untuk menggambarkan proses merancang, melaksanakan dan
mengevaluasi ruang informasi yang manusiawi dan diterima secara sosial oleh
para stakeholder[7]. Arsitektur Informasi juga
dapat dipahami sebagai terminologi yang digunakan untuk menjelaskan struktur
dari sebuah sistem[8], atau sebagai seni dan
ilmu pengetahuan (science)
mengorganisasikan informasi mudah ditemukan, mudah dikelola dan sangat berguna[9].
Beberapa definisi di bidang Arsitektur Informasi umumnya berfokus pada
pengorganisasian informasi melalui mekanisme seperti pelabelan, penataan,
chunking, dan mengkategorikan dalam rangka untuk mendukung navigasi, kemudahan
pencarian (findability) dan kegunaan[10].
Arsitektur
informasi dalam web site
Berbicara tentang arsitektur informasi, berarti
berbicara tentang sebuah web site. Sebuah web site akan menyangkut tiga hal,
yaitu context, content dan user. Ketiga elemen tersebut digambarkan
sebagai berikut:
![]() |
| Gb1, arsitektur informasi (sumber: Iain Baker: What Is Information Architektur? Dari www.steptwo .com.au tahun 2005) |
Ketiga komponen tersebut merupakan ruh yang
menjiwai arsitektur informasi, yang kemudian divisualisasikan ke dalam bentuk
halaman web. Komponen konteks berbicara tentang ruang lingkup keberadaan
pemilik web site (baca: Pemilik Informasi). Pada konteks inilah diperoleh
pengetahuan tentang latar belakang, visi, misi, tujuan dan spesifikasi ruang
gerak pemilik. Dengan pemahaman yang baik terhadap konteks yang diemban oleh
pemilik informasi, maka user akan segera mengetahui informasi apa yang dapat
diperoleh atau seharusnya diperoleh dan tidak patut diperoleh dari web
tersebut. Misalnya sebuah web site
(blog) yang didirikan oleh sebuah lembaga pendidikan tentu akan berbicara
tentang pendidikan, seperti aktivitas pendidikan, aktivitas akademik, aktivitas
administrasi pendidikan dan lain sebagainya, namun tidak patut bila didalamnya
mengandung informasi tentang siaran televisi sepak bola. Namun, kebanyakan
context-aware (kesadaran pada konteks) layanan Web mempertimbangkan konteks
yang berfokus hanya tentang peran dari Web sebagai alat pencarian informasi.[11]
Semua situs web dan intranet berada dalam suatu bisnis
tertentu atau konteks organisasi. Apakah eksplisit atau implisit, setiap
organisasi memiliki misi, tujuan, strategi, Staf, proses dan prosedur,
infrastruktur fisik dan teknologi, anggaran, dan budaya. Ini adalah campuran
kolektif antara kemampuan, aspirasi, dan sumber daya yang unik untuk setiap
organisasi.[12]
Setelah dipahami dengan baik Konteks sebuah
organisasi pemilik informasi, selanjutnya akan dilihat kualitas isi (content).
Aspek Konten sangat penting, karena disinilah pengguna (user) akan mendapatkan
manfaat atau tidak mendapat manfaat dari sebuah web. Pada aspek inilah
performans sebuah web site dilihat (diukur). Sekalipun ada orang yang mungkin
menyangkal bahwa jika ada yang menilai buruk terhadap sebuah organisasi oleh
karena kualitas informasi di webnya sangat rendah, oleh karena beberapa alasan,
misalnya anggapan bahwa web sekedar pelengkap, web sekedar ikut trend atau
kalimat lain sejenis itu. Akan tetapi dari sudut arsitektur informasi (sistem
informasi), konten tidak bisa dianggap seperti itu. Konten adalah kualitas
sebuah organisasi pemilik informasi (web). Artinya pada aspek ini, kualitas
data dan fakta menjadi tulang punggung sebuah web, dimana pada akhirnya akan
diperoleh penilaian apakah pemilik informasi adalah sebuah lembaga yang
berkualitas baik atau sekedar narsis dan banyak bicara. Konten Anda adalah
alasan pengunjung datang ke situs Anda - dan terus kembali.[13]
User, merupakan sisi lain yang sangat penting
untuk diperhatikan. Setiap organisasi (lembaga) pastilah sudah mengerti akan
arti kehadirannya di dunia ini, yaitu memberi manfaat kepada manusia tertentu
dan setelah itu baru diperoleh keuntungan. Manusia tertentu itulah yang
dimaksud sebagai pengguna informasi. Merekalah yang akan memanfaatkan informasi
sebaik-baiknya, baik untuk kepentingan dirinya sendiri atau orang lain. User
sebaiknya dipahami, dihormati, dihargai dan dilayani dengan baik. Namun
demikian, user haruslah orang yang dibutuhkan dan yang membutuhkan pemilik
informasi. Sebuah arsitektur informasi yang efektif harus mencerminkan
cara orang berpikir tentang subject matter (subjek masalah).[14]
Pengorganisasian Web
Sebagaimana disebutkan dimuka bahwa web site
merupakan visualisasi context (konteks), content (isi) dan User (pengguna) dari
sebuah lembaga/organisasi/perorangan yang memiliki informasi. Persoalannya adalah
bagaimana mengemasnya menjadi sebuah situs yang menarik, mudah ditelusuri dan
memberikan manfaat yang maksimal bagi pengguna. Sebaliknya menghindari
terbentuknya situs yang narsis, membosankan dan memiliki nilai guna informasi
yang rendah. Oleh karena itu sebuah situs harus dapat menggabungkan antara
Seni, Informasi dan Intelektual secara padu dan harmonis. Pengorganisaian web menggambarkan
cara-cara di mana halaman yang berbeda dari situs Anda berhubungan satu sama
lain dan memastikan informasi yang diatur dalam cara yang konsisten dan dapat
diprediksi pada setiap halaman[15].
Pengorganisasian situs menyangkut penyusunan
skema dan struktur informasi, serta berhubungan erat dengan Navigasi, pelabelan
dan pengindeksan.Artinya setelah skema web (map) dan struktur arus informasi
telah tersusun dengan baik, selanjutnya diwujudkan dalam bentuk Navigasi, Label
dan Index.
Skema situs lebih dikenal dengan sebutan “site
map”, adalah model visual atau tekstual yang terorganisir dari konten sebuah
web site yang memungkinkan pengguna untuk menelusuri situs untuk menemukan
informasi yang mereka cari.[16]Pemetaan
sebuah web menjadi dangat penting guna memudahkan dan membuat nyaman pengguna
web, tentu saja pengguna yang mengharapkan informasi mungkin untuk memecahkan
masalah hidupnya tidak ingin tambah stress setelah menelusuri web Anda.
Informasi dalam sebuah situs seharusnya juga
tersusun (terstruktur) dengan baik, memiliki hirarki atau sebaran informasi
yang jelas dan mudah dipahami. Besar kecilnya rentang struktur informasi,
bergantung pada luasan area informasi yang dimiliki oleh pemilik web. Artinya struktur
informasi dapat saja bersifat kompleks atau sederhana. Namun yang perlu
diperhatikan adalah bahwa baik sederhana maupun kompleks, strukturnya harus
jelas dan mudah dipahami. Hirarki adalah cara yang paling baik untuk mengatur
sosok informasi yang sangat kompeks. Karena halaman web biasanya hanya diatur
oleh satu halaman muka (Home/Beranda)[17].
![]() |
| Gb2. Struktur Web. (sumber:Patrick J. Lynch and Sarah Horton, web style guide online www.webstyleguide.com 2008-2011) |
Disamping pemetaan situs dan strukturisasi
informasi yang jelas, web juga membutuhkan peralatan (tool) yang dapat
memudahkan pengguna dalam menelusurinya. Dan alat tersebut dinamakan Navigasi. Biasanya
berbentuk simbol-simbol atau satu kata yang mewakili sekian banyak informasi
didalamnya (label). Dalam navigasi inilah user dituntun untuk menemukan
informasi yang dibutuhkannya. Navigasi menjawab pertanyaan: “dimana terdapat
informasi apa?” Struktur navigasi adalah kunci untuk merencanakan
sebuah website. Struktur navigasi melibatkan tingkat sedikit lebih tinggi dari
abstraksi lebih dari sekedar sketsa. Sebuah diagram alur navigasi (atau
sitemap) mengatur bagaimana Anda akan memandu pengunjung melalui material (web content) Anda[18].
Terdapat dua jenis Navigasi, pertama navigasi
global, yaitu petunjuk arah situs secara garis besar, yang memuat sub web yang
ada (kompleks web), dan kedua navigasi internal yaitu penunjuk arah konten dari
sub web.
Terdapat dua jenis Navigasi, pertama navigasi global, yaitu petunjuk arah situs secara garis
besar, yang memuat sub web yang ada (kompleks web), dan kedua navigasi internal yaitu penunjuk arah konten dari sub web. Navigasi
menyediakan akses ke informasi dengan cara yang meningkatkan pemahaman,
mencerminkan merek (brand), dan menjaminkan kredibilitas keseluruhan situs.
Fungsi Navigasi adalah:[19]
· Menyediakan akses ke informasi
· Menunjukkan lokasi di situs
· Menunjukkan "aboutness"
dari sebuah situs
· mencerminkan merek
· Mempengaruhi kredibilitas situs
Navigasi haruslah memiliki hubungan yang sangat erat dengan
site map dan struktur informasi. Navigasi disusun berdasarkan pada keduanya.
Disamping
navigasi, arsitektur informasi membutuhkan pengelompokkan jenis atau kelas dari
informasi-informasi yang ingin disampaikan, pengelompokkan ini disebut labeling
(pelabelan). Pelabelan adalah pemilahan informasi-informasi berdasarkan beberapa
kesamaan mindstream, kesamaan jenis, kesamaan bahasan, dan kesamaan lain yang
dapat menuntun pengguna untuk mendapatkan informasi secara lengkap dengan
mudah. Pengguna biasanya ingin mendapatkan informasi dengan cepat dan enggan berlama-lama
di sebuah petunjuk, oleh karenanya sangatlah penting untuk membuat label
menjadi intuitif. Dalam bahasa blog, pelabelan biasanya disebut sebagai category.
Pelabelan (labeling/kategorisasi) informasi sangat penting manakala
sebuah web memiliki struktur yang sangat luas dan merupakan web enterpises. Dengan
melalui pelabelan ini semua informasi yang akan diinformasikan (content of web),
dikemas menjadi lebih ringkas, padat dan jelas. Label yang baik akan berbicara
dengan bahasa pengguna, menghindari penggunaan istilah perusahaan (organisasi),
istilah-istilah teknis, label pintar dan singkatan[20]
[1] Wiki Pedia Bahasa Inggeris,
http://en.wikipedia.org/wiki/Architecture
[2] Kamus Oxforf online,
http://oxforddictionaries.com/definition/english/architecture
[3] California Architec Board,
http://www.architect.ca.gov/what_architect/definitions.shtml
[4] Wiki pedia Bahasa Indonesia,
http://id.wikipedia.org/wiki/Informasi
[6]
DanuWira Pangestu, Teori Dasar Sistem Informasi Manajemen (SIM), Komunitas eLearning IlmuKomputer.Com, Tahun 2007
[7] Andrew Dillon :
Information Architecture in JASIST:
Just Where Did We Come From? Journal of The American sosciety for Information
Science and Technology, 53(10):821–823, 2002
[8] Iain
Baker: What Is Information Architektur? Dari www.steptwo
.com.au tahun 2005
[9] Bailey, S.
(2002). Do you need a taxonomy strategy? Inside Knowledge, 5(5), diambil dari
http://www.ikmagazine.com/
[10] Lawra
Downey, Building Information Architecture Checklist, Journal Of Information
Architecture Volume 2 Issue2 tahun 2010.
[11]
Jinyuk Choi, dkk: Web
Context Classification Based on Information Quality Factors, Journal of Universal Computer Science, vol. 16, no. 16 (2010)
[12]
Peter Morville and Louis Rosenfeld, Information Architecture for the World Wide Web 3rth
edition, O’Relly Media 2007
[13]
Guide to Creating Website Information Architecture
and Content, Bagian (kantor) Komunikasi
Princeton University | 2008 | Version 2.2
[14] Iain
Baker, op.cit. hal 3.
[15]
Bagian
(kantor) Komunikasi Princeton University
| 2008 | Version 2.2, op.cit. hal 8.
[16]
Margareth Rouse di www. http://searchsoa.techtarget.com.
Di unggah bulan September 2005
[17] Patrick J. Lynch and Sarah Horton, web
style guide online www.webstyleguide.com
2008-2011
[18] David
Karlins dan Dough Sahlin, Building web
sites All in One 3rth edition,th.2012. diambil dari www.dummies.com


