Kamis, 14 Maret 2013

INFORMATION ARCHITECTUR WOLRD WEB WIDE (BAGIAN I)


Latar belakang
Internet dewasa ini sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari baik sebagai sarana mencari pengetahuan maupun upaya mempromosikan diri, ataupun sebagai sarana hiburan. Bagi sebagian orang, internet memberikan informasi yang berharga yang dibutuhkannya. Hal ini diperoleh melalui web server yang menyediakan serfis layanan ilmu pengethuan dan teknologi dan dengan mudah di dapat melalu mesin pencari seperti google cendekia (scholar). Bagi sebagian yang lain telah menyadari bahwa ada demand yang cukup baik dari masyarakat untuk mendapatkan informasi melalui internet, sehingga kemudian turut serta aktif dalam dunia maya melalui web hosting untuk memperkenalkan diri agar diketahui oleh masyarakat yang lebih luas. Sementara sebagian yang lainnya lagi menggunakan internet untuk menghibur diri yaitu dengan melalui game online, nonton filem, nonton tv dan menikmati video kiriman. 
Kenyataan di atas memberikan deskripsi bahwa terdapat interaksi sosial yang berlangsung dalam dunia maya yang tersegmentasi oleh kondisi sosial pada senyatanya. Perasaan yang hampir sama bila kita berkunjung sebuah pasar, maka kita akan menemukan interaksi sosial berdasarkan kebutuhan dan layanan yang disediakan oleh operator pasar. Artinya internet menyediakan sesuatu yang dibutuhkan oleh manusia berupa informasi seluas kebutuhan itu sendiri. Bayangkan jika kita pergi ke suatu Mall dan kita temui suasana yang  tidak tertata rapi, tanpa petunjuk tempat barang dijual, tanpa petunjuk harga per item barang, pasti akan menemui banyak kesulitan.
Untuk itu diperlukan penataan informasi dalam sebuah web site. Penataan yang memudahkan pengguna untuk mendapatkan apa yang diperlukannya. Iniliah yang dimaksud dengan arsitektur informasi pada website.

Pengertian
Arsitektur Informasi, merupakan terminologi yang didapat dari dua kata yaitu Arsitektur dan Informasi. Arsitektur lebih dikenal terlebih dahulu pada dunia tekhnik sipil (bangunan), kemudian di adopsi ke dalam sistem informasi menjadi arsitektur enterprise, lalu dipersempit lagi ke dalam arsitektur informasi untuk menunjuk  website.
 Arsitektur berasal dari bahasa Yunani (greek), yaitu “arsi” yang berarti “kepala” dan “tektur” yang berarti “pembangunan, tukang kayu,tukang, yaitu proses dan produk perencanaan, rancangan dan konstruksi[1]. Arsitektur juga dapat dipahami sebagai seni dan praktek merancang dan membangun gedung-gedung[2], atau diartikan sebagai campuran dari imajinasi, seni dan ilmu dalam desain lingkungan bagi manusia[3].
Informasi diartikan sebagai pesan (ucapan atau ekspresi) atau kumpulan pesan yang terdiri dari order sekuens dari simbol, atau makna yang dapat ditafsirkan dari pesan atau kumpulan pesan[4], dan dapat pula di pahami sebagai data yang berasal dari fakta yang tercatat dan selanjutnya dilakukan pengolahan (proses) menjadi bentuk yang berguna atau bermanfaat bagi pemakainya[5]. Informasi juga dapat didefenisikan sebagai hasil dari pengolahan data dalam suatu bentuk yang lebih berguna dan lebih berarti bagi penerimanya yang menggambarkan suatu kejadian-kejadian (event) yang nyata (fact) yang digunakan untuk pengambilan keputusan[6].
Dari pengertian diatas dapat disusun sebuah konsep tentang arsitektur informasi sebagai rancang bangun aliran dan pengolahan data dan fakta sehingga memiliki nilai guna dan manfaat bagi pemakainya. Andrew Dillion (2002) menjelaskan Arsitektur Informasi sebagai istilah yang digunakan untuk menggambarkan proses merancang, melaksanakan dan mengevaluasi ruang informasi yang manusiawi dan diterima secara sosial oleh para stakeholder[7]. Arsitektur Informasi juga dapat dipahami sebagai terminologi yang digunakan untuk menjelaskan struktur dari sebuah sistem[8], atau sebagai seni dan ilmu pengetahuan (science) mengorganisasikan informasi mudah ditemukan, mudah dikelola dan sangat berguna[9]. Beberapa definisi di bidang Arsitektur Informasi umumnya berfokus pada pengorganisasian informasi melalui mekanisme seperti pelabelan, penataan, chunking, dan mengkategorikan dalam rangka untuk mendukung navigasi, kemudahan pencarian (findability) dan kegunaan[10].

Arsitektur informasi dalam web site
Berbicara tentang arsitektur informasi, berarti berbicara tentang sebuah web site. Sebuah web site akan menyangkut tiga hal, yaitu context, content dan user. Ketiga elemen tersebut digambarkan sebagai berikut:
Gb1, arsitektur informasi
(sumber: Iain Baker: What Is Information Architektur?  Dari www.steptwo .com.au tahun 2005)
 Busines atau konteks. Dalam merancang sebuah web, sebaiknya terlebih dahulu memahami konteks organisasi yang akan dirancang, yang meliputi aspek tujuan organisasi, budaya, tekhnologi, sumberdaya dan lainnya. Content atau isi, yaitu informasi yang ingin disampaikan melalui web site. Untuk mendapatkan konten yang berkualitas dan lengkap, sebaiknya terlebih dahulu diinventarisir lalu di pilih dengan seksama. User atau pengguna yaitu informasi yang disampaikan haruslah memiliki orientasi pengguna yang jelas, dan menghindari informasi dengan pengguna yang terlalu luas, tidak tersegmentasi dengan baik, sehingga justru menghilangkan jatidiri organisasi.
Ketiga komponen tersebut merupakan ruh yang menjiwai arsitektur informasi, yang kemudian divisualisasikan ke dalam bentuk halaman web. Komponen konteks berbicara tentang ruang lingkup keberadaan pemilik web site (baca: Pemilik Informasi). Pada konteks inilah diperoleh pengetahuan tentang latar belakang, visi, misi, tujuan dan spesifikasi ruang gerak pemilik. Dengan pemahaman yang baik terhadap konteks yang diemban oleh pemilik informasi, maka user akan segera mengetahui informasi apa yang dapat diperoleh atau seharusnya diperoleh dan tidak patut diperoleh dari web tersebut. Misalnya sebuah web site (blog) yang didirikan oleh sebuah lembaga pendidikan tentu akan berbicara tentang pendidikan, seperti aktivitas pendidikan, aktivitas akademik, aktivitas administrasi pendidikan dan lain sebagainya, namun tidak patut bila didalamnya mengandung informasi tentang siaran televisi sepak bola. Namun, kebanyakan context-aware (kesadaran pada konteks) layanan Web mempertimbangkan konteks yang berfokus hanya tentang peran dari Web sebagai alat pencarian informasi.[11] Semua situs web dan intranet berada dalam suatu bisnis tertentu atau konteks organisasi. Apakah eksplisit atau implisit, setiap organisasi memiliki misi, tujuan, strategi, Staf, proses dan prosedur, infrastruktur fisik dan teknologi, anggaran, dan budaya. Ini adalah campuran kolektif antara kemampuan, aspirasi, dan sumber daya yang unik untuk setiap organisasi.[12]
Setelah dipahami dengan baik Konteks sebuah organisasi pemilik informasi, selanjutnya akan dilihat kualitas isi (content). Aspek Konten sangat penting, karena disinilah pengguna (user) akan mendapatkan manfaat atau tidak mendapat manfaat dari sebuah web. Pada aspek inilah performans sebuah web site dilihat (diukur). Sekalipun ada orang yang mungkin menyangkal bahwa jika ada yang menilai buruk terhadap sebuah organisasi oleh karena kualitas informasi di webnya sangat rendah, oleh karena beberapa alasan, misalnya anggapan bahwa web sekedar pelengkap, web sekedar ikut trend atau kalimat lain sejenis itu. Akan tetapi dari sudut arsitektur informasi (sistem informasi), konten tidak bisa dianggap seperti itu. Konten adalah kualitas sebuah organisasi pemilik informasi (web). Artinya pada aspek ini, kualitas data dan fakta menjadi tulang punggung sebuah web, dimana pada akhirnya akan diperoleh penilaian apakah pemilik informasi adalah sebuah lembaga yang berkualitas baik atau sekedar narsis dan banyak bicara. Konten Anda adalah alasan pengunjung datang ke situs Anda - dan terus kembali.[13]
User, merupakan sisi lain yang sangat penting untuk diperhatikan. Setiap organisasi (lembaga) pastilah sudah mengerti akan arti kehadirannya di dunia ini, yaitu memberi manfaat kepada manusia tertentu dan setelah itu baru diperoleh keuntungan. Manusia tertentu itulah yang dimaksud sebagai pengguna informasi. Merekalah yang akan memanfaatkan informasi sebaik-baiknya, baik untuk kepentingan dirinya sendiri atau orang lain. User sebaiknya dipahami, dihormati, dihargai dan dilayani dengan baik. Namun demikian, user haruslah orang yang dibutuhkan dan yang membutuhkan pemilik informasi. Sebuah arsitektur informasi yang efektif harus mencerminkan cara orang berpikir tentang subject matter (subjek masalah).[14]

Pengorganisasian Web
Sebagaimana disebutkan dimuka bahwa web site merupakan visualisasi context (konteks), content (isi) dan User (pengguna) dari sebuah lembaga/organisasi/perorangan yang memiliki informasi. Persoalannya adalah bagaimana mengemasnya menjadi sebuah situs yang menarik, mudah ditelusuri dan memberikan manfaat yang maksimal bagi pengguna. Sebaliknya menghindari terbentuknya situs yang narsis, membosankan dan memiliki nilai guna informasi yang rendah. Oleh karena itu sebuah situs harus dapat menggabungkan antara Seni, Informasi dan Intelektual secara padu dan harmonis. Pengorganisaian web menggambarkan cara-cara di mana halaman yang berbeda dari situs Anda berhubungan satu sama lain dan memastikan informasi yang diatur dalam cara yang konsisten dan dapat diprediksi pada setiap halaman[15].
Pengorganisasian situs menyangkut penyusunan skema dan struktur informasi, serta berhubungan erat dengan Navigasi, pelabelan dan pengindeksan.Artinya setelah skema web (map) dan struktur arus informasi telah tersusun dengan baik, selanjutnya diwujudkan dalam bentuk Navigasi, Label dan Index.
Skema situs lebih dikenal dengan sebutan “site map”, adalah model visual atau tekstual yang terorganisir dari konten sebuah web site yang memungkinkan pengguna untuk menelusuri situs untuk menemukan informasi yang mereka cari.[16]Pemetaan sebuah web menjadi dangat penting guna memudahkan dan membuat nyaman pengguna web, tentu saja pengguna yang mengharapkan informasi mungkin untuk memecahkan masalah hidupnya tidak ingin tambah stress setelah menelusuri web Anda.
Informasi dalam sebuah situs seharusnya juga tersusun (terstruktur) dengan baik, memiliki hirarki atau sebaran informasi yang jelas dan mudah dipahami. Besar kecilnya rentang struktur informasi, bergantung pada luasan area informasi yang dimiliki oleh pemilik web. Artinya struktur informasi dapat saja bersifat kompleks atau sederhana. Namun yang perlu diperhatikan adalah bahwa baik sederhana maupun kompleks, strukturnya harus jelas dan mudah dipahami. Hirarki adalah cara yang paling baik untuk mengatur sosok informasi yang sangat kompeks. Karena halaman web biasanya hanya diatur oleh satu halaman muka (Home/Beranda)[17].

Gb2. Struktur Web. (sumber:Patrick J. Lynch and Sarah Horton, web style guide online www.webstyleguide.com 2008-2011)

Disamping pemetaan situs dan strukturisasi informasi yang jelas, web juga membutuhkan peralatan (tool) yang dapat memudahkan pengguna dalam menelusurinya. Dan alat tersebut dinamakan Navigasi. Biasanya berbentuk simbol-simbol atau satu kata yang mewakili sekian banyak informasi didalamnya (label). Dalam navigasi inilah user dituntun untuk menemukan informasi yang dibutuhkannya. Navigasi menjawab pertanyaan: “dimana terdapat informasi apa?” Struktur navigasi adalah kunci untuk merencanakan sebuah website. Struktur navigasi melibatkan tingkat sedikit lebih tinggi dari abstraksi lebih dari sekedar sketsa. Sebuah diagram alur navigasi (atau sitemap) mengatur bagaimana Anda akan memandu pengunjung melalui material (web content) Anda[18].
Terdapat dua jenis Navigasi, pertama navigasi global, yaitu petunjuk arah situs secara garis besar, yang memuat sub web yang ada (kompleks web), dan kedua navigasi internal yaitu penunjuk arah konten dari sub web. 


Terdapat dua jenis Navigasi, pertama navigasi global, yaitu petunjuk arah situs secara garis besar, yang memuat sub web yang ada (kompleks web), dan kedua navigasi internal yaitu penunjuk arah konten dari sub web. Navigasi menyediakan akses ke informasi dengan cara yang meningkatkan pemahaman, mencerminkan merek (brand), dan menjaminkan kredibilitas keseluruhan situs. Fungsi Navigasi adalah:[19]
·     Menyediakan akses ke informasi
·     Menunjukkan lokasi di situs
·     Menunjukkan "aboutness" dari sebuah situs
·     mencerminkan merek
·     Mempengaruhi kredibilitas situs


Navigasi haruslah memiliki hubungan yang sangat erat dengan site map dan struktur informasi. Navigasi disusun berdasarkan pada keduanya.
            Disamping navigasi, arsitektur informasi membutuhkan pengelompokkan jenis atau kelas dari informasi-informasi yang ingin disampaikan, pengelompokkan ini disebut labeling (pelabelan). Pelabelan adalah pemilahan informasi-informasi berdasarkan beberapa kesamaan mindstream, kesamaan jenis, kesamaan bahasan, dan kesamaan lain yang dapat menuntun pengguna untuk mendapatkan informasi secara lengkap dengan mudah. Pengguna biasanya ingin mendapatkan informasi dengan cepat dan enggan berlama-lama di sebuah petunjuk, oleh karenanya sangatlah penting untuk membuat label menjadi intuitif. Dalam bahasa blog, pelabelan biasanya disebut sebagai category.
Pelabelan (labeling/kategorisasi) informasi sangat penting manakala sebuah web memiliki struktur yang sangat luas dan merupakan web enterpises. Dengan melalui pelabelan ini semua informasi yang akan diinformasikan (content of web), dikemas menjadi lebih ringkas, padat dan jelas. Label yang baik akan berbicara dengan bahasa pengguna, menghindari penggunaan istilah perusahaan (organisasi), istilah-istilah teknis, label pintar dan singkatan[20]



[19] James Kalbach, Designing Web Navigation, O’Reilly media, 2007
[20] Ibid hal 141.





[1] Wiki Pedia Bahasa Inggeris, http://en.wikipedia.org/wiki/Architecture
[2] Kamus Oxforf online, http://oxforddictionaries.com/definition/english/architecture
[3] California Architec Board, http://www.architect.ca.gov/what_architect/definitions.shtml
[4] Wiki pedia Bahasa Indonesia, http://id.wikipedia.org/wiki/Informasi
[6] DanuWira Pangestu, Teori Dasar Sistem Informasi Manajemen (SIM), Komunitas eLearning IlmuKomputer.Com, Tahun 2007
[7] Andrew Dillon : Information Architecture in JASIST: Just Where Did We Come From? Journal of The American sosciety for Information Science and Technology, 53(10):821–823, 2002
[8] Iain Baker: What Is Information Architektur?  Dari www.steptwo .com.au tahun 2005
[9] Bailey, S. (2002). Do you need a taxonomy strategy? Inside Knowledge, 5(5), diambil dari http://www.ikmagazine.com/
[10] Lawra Downey, Building Information Architecture Checklist, Journal Of Information Architecture Volume 2 Issue2 tahun 2010.
[11] Jinyuk Choi, dkk: Web Context Classification Based on Information Quality Factors, Journal of Universal Computer Science, vol. 16, no. 16 (2010)
[12] Peter Morville and Louis Rosenfeld, Information Architecture for the World Wide Web 3rth edition, O’Relly Media 2007
[13] Guide to Creating Website Information Architecture and Content, Bagian (kantor) Komunikasi  Princeton University | 2008 | Version 2.2
[14] Iain Baker, op.cit. hal 3.
[15] Bagian (kantor) Komunikasi  Princeton University | 2008 | Version 2.2, op.cit. hal 8.
[16] Margareth Rouse di www. http://searchsoa.techtarget.com. Di unggah bulan September 2005
[17] Patrick J. Lynch and Sarah Horton, web style guide online www.webstyleguide.com 2008-2011
[18] David Karlins dan Dough Sahlin,  Building web sites All in One 3rth edition,th.2012. diambil dari www.dummies.com

3 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih atas tambahannya, Desain Informasi secara global memang demikian, tetapi kita sedang bicara tentang arsitektur informasi sebuah web.

      dalam hal Arsitektur Informasi (enterprise), Zachman berkata:
      "Yes, Enterprise Arschitecture is Relative BUT It is not Arbitrary" artinya lebih kurang:
      "Ya, Arsitektur enterprise adalah relatif, namun tidak semaunya sendiri",,,

      Hapus
  2. bcp77@ sory....komenmu ke hapus...anakku tidak sengaja ngeklik, "hapus" sory ya....

    BalasHapus