PENGGUNAAN
FRAMEWORK CISCO
SEBAGAI
KERANGKA PENERAPAN TEKNOLOGI CLOUD COMPUTING
PADA
PERGURUAN TINGGI
Oleh Wahono: Pranata
Komputer pada IAIN Raden Intan Lampung
Abstrack
Tekhnologi cloud computing sangat populer saat ini,
banyak organisasi dan institusi bersungguh-sungguh menaruh minat untuk
menggunakannya . Alasan efisiensi dan efektifitas menjadi salah satu
pertimbangan utamanya, dalam melayani pengelolaan sistem informasi manajemen
dengan skala yang lebih besar.
Perguruan tinggi sebagai lembaga yang bergerak
dibidang pendidikan tinggi, memiliki layanan dengan skalabilitas dan segmentasi
pegguna yang luas. Sudah selayaknya mempertimbangkan penggunaan teknologi cloud
computing sebagai basis pelayanannya.
Beberapa vendor telah menyediakan framework cloud computing
sebagai kerangka untuk mengimplentasikannya, salah satunya adalah framework
yang dirilis oleh cisco. Konsep Implementasi cloud computing yang dirancang
dengan menggunakan framework cisco pada perguruan tinggi adalah aplicable dan
sesuai dengan karekteristik sistem informasi perguruan tinggi.
Kata Kunci: Cloud Computing, Cisco Cloud Computing
Refference Framework, Peruguran Tinggi
Abstract
Cloud
computing technology is very popular today, many organizations and institutions
earnestly interested to use it. Reasons of efficiency and effectiveness to be
one of the main considerations, in serving the management of information
systems management with a larger scale.
Universities
as institutions engaged in higher education, has a service with the scalability
and wider user segmentation. It is appropriate to consider to using cloud
computing technology as a basic of his ministry.
Some
vendors have provided a framework for cloud computing as a framework to be implemented, one of these frameworks are released by Cisco.
The concept of the cloud computing implementation that designed by Cisco's framework in a college are aplicable and in accordance with the characteristics of information systems in universities.
Keywords:
Cloud Computing, Cloud Computing Cisco Refference Framework, University
1.
Pendahuluan
Dalam
evolusi teknologi komputasi pemrosesan informasi telah bergeser dari mainframe personal komputer (pc) ke server centris komputer ke Web. Saat ini
banyak organisasi yang serius untuk mempertimbangkan menggunakan komputasi awan.[1]
Berdasarkan riset Kai-Uwe
Ruhse, CISA, PCI QSA dan Maria Baturova
(Maret 2012), salah seorang manager senior dan konsultan pada lembaga Protiviti
Jerman (www.protiviti.de),
dari beberapa studi kasus proyek cloud
computing yang memperlihatkan perubahan kepada cloud computing menunjukkan terjadinya banyak perubahan keputusan strategis dan
penting bagi para manajer TI. Perencanaan strategis SI/TI yang telah berjalan
perlu dikaji ulang terkait dengan pemilihan skenario penggunaan layanan cloud computing yang sesuai[2].
TI memainkan
peran penting dalam pendidikan. Dalam proses belajar mengajar, TI menyediakan makna baru dalam penyampaian
(materi pelajaran), unsur yang lebih beragam dari konten, perbaikan manajemen
proses pengajaran dan fleksibilitas pembelajaran (any time/any where). Dalam penelitian akademik, TI menyediakan
sejumlah besar informasi dan referensi
dan memungkinkan data yang akan dengan mudah dan cepat dikumpulkan, dianalisis
dan berbagi dengan orang lain. Dalam komunikasi, TI menawarkan fleksibilitas
yang tinggi dan komunikasi yang mudah dan cepat. Dalam proses administrasi, TI
memberikan kemampuan untuk mengelola dan mengendalikan puluhan ribu siswa
melalui sistem yang akurat dan aplikasi[3].
Saat ini hampir
70% lembaga pendidikan tinggi di Amerika Utara telah mengalihkan (atau sedang
proses peralihan) sistem email mereka ke cloud.
Sekitar 50% telah mengadopsi kolaborasi sistem berbasis cloud untuk melakukan
improvisasi, berbagi informasi antar kampus. Lembaga pendidikan tinggi sekarang
telah menemukan point-point solusi
untuk merekrut mahasiswa, manajemen bakat, penelitian, administrasi dan
penggalangan dana di dalam cloud. Level cloud berbasis enterprise juga telah
tersedia.[4]
Penerapan cloud computing secara umum tidak akan
terlepas dari konsepsi dasar tentang cloud computing tersebut. Dari banyak
karya ilmiah dibidang komputasi awan, sebagian besar mendasarkan diri pada
konsepi komputasi awan yang di keluarkan oleh NIST[5].
Kecuali IBM yang telah menambahkan satu bentuk layanan yang diberi nama Business Prosess as a Service (BPaaS)[6].
Gambar 1 berikut ini menggambarkan tentang konsepsi dasar komputasi awan, yaitu
Gambar 1. Visual model
komputasi awan NIST
Pada gambar tersebut, komputasi awan adalah sebuah
bentuk sistem komputasi yang memiliki
1. Karakter
dasar :Broad Network Access, Rapid
Elasticity, Measured Service, On Demand Service, dimana seluruh
sumberdayanya tersatukan.
2. Model
Layanan: Software as a Service (SaaS),
Platform as a Service (PaaS), Infrastruktur as a Service (IaaS).
3. Deployment Model :
Public Cloud, Private Cloud, Hybrid Cloud, dan Community Cloud.
Memperhatikan
tulisan Mohammad A. Rashid, dkk (2002) yang berjudul “The Evolution of ERP Systems: A Historical Perspective”[7],
dapat dipahami bahwa cloud computing merupakan milestone (tonggak sejarah) ke enam dari perkembangan era
komputasi, artinya sebelum beralih ke
model cloud computing sangat besar
kemungkinan terlah digunakan model komputasi berbasis enterprise arsitecture yaitu merupakan kegiatan pengorganisasian
data yang dipergunakan dan dihasilkan oleh organisasi yang mencakup tujuan proses
bisnis dari organisasi tersebut[8].
Beberapa vendor
teleh menyediakan framework sebagai
acuan ketika seseorang atau perusahaan hendak beralih sistem ke cloud. IBM
merilis CCRA (Cloud Computing Refference
Architecture)[9], NIST
RA (NIST Refference Architecture)[10],
ORA (Oracle Conseptual RA)[11],
HP Cloud System reference architecture[12],
dan Cisco cloud reference architecture[13].
Sebagai framework, mereka berfungsi sebagai konsep kerangka berfikir dan
bertindak dalam mengadopsi teknologi cloud di lingkungan kerjanya. Demikian
halnya bagi perguruan tinggi yang berfikir untuk mengalihkan teknologi
komputasinya. Sebuah studi perbandingan telah di lakukan oleh Demeke
Gebresenbet Bayyou (2013), dan pada kesimpulannya menyebutkan bahwa setiap
vendor menggunakan refference
architecture yang berbeda[14].
Sehingga membutuhkan kehati-hatian dan pertimbangan yang cermat dalam
mengadopsi cloud computing.
2.
Rumusan masalah
Dari beberapa
model framework arsitektur cloud yang tersedia, akan memerlukan pendalaman
untuk menyesuaikan dengan persoalan dan kebutuhan komputasi, terutama bagi
perguruan tinggi di Indonesia, dan mengkaji setiap framework merupakan hal yang
menarik untuk dilakukan. Akan tetapi oleh karena keterbatasan yang ada maka
memilih salah satu framework untuk di analisis dan dikaji akan memberikan
konstribusi yang cukup bermanfaat.
Oleh karena itu
penelitian ini akan membatasi permasalahan pada bagaimana penerapan framework
Cisco bagi perguruan tinggi.
3.
Tujuan Penelitian
Penelitian ini
bertujuan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan komputer bidang cloud computing
dan diharapkan bermanfaat bagi para akademisi, praktisi dan perguruan tinggi
dalam mempelajari serta menerapkan teknologi cloud computer.
4.
Tinjauan Pustaka
Samsul Anuar
Mohtar dkk (2013)[15]
telah melakukan penelitian tentang bagaimana lembaga pendidikan mengadopsi
cloud sebagai sarana manajemen pendidikan. Ia membandingkan cloud dengan
tradisional computer dan memberikan solusi langkah-langkah strategis tentang
peralihan ke sistem cloud. Samuel Con dkk (2012)[16],
melakukan penelitian tentang cloud computing untuk mendukung penerapan belajar
di Southern Polytecnic State University, Amerika Serikat. Ia melakukan studi
dasar desain infrastruktur cloud computing di perguruan tinggi, dan
berkesimpulan bahwa (1) cloud computing saat ini dapat di sarankan lebih lanjut
untuk diterapkan di Sekolah Komputer dan Rekayasa Perangkat Lunak, (2)
Konstruksi sebuah ARN (Academic Resource Network) untuk mempromosikan, menguji,
pengembangan dan penelitian, dapat dijadikan pengaruh terbaik sebagai
sumberdaya penelitian. (3) Arsitektur yang ditawarkan layak, terukur, dapat
ditelusuri. (4) Studi lebih lanjut mengindikasikan untuk memberikan penilaian
sepenuhnya dan menerapkan cloud computing dalam mendukung pendekatan
interdisipler pada teknologi informasi dan sistem.
Mohammed
Al-Zoube (2009)[17]
telah melakukan penelitian tentang e learning berbasis cloud, ia menyimpulkan
bahwa teknologi cloud computing dapat di exploitasi, generasi selanjutnya dari
peralatan platform yang independen dan menyediakan media penyimpanan e learning
yang besar untuk memberikan layanan pembelajaran formal dan informal yang
cerdas. Dia juga menambahkan bahwa satu set teknologi ini memiliki potensi yang
jelas untuk mendistribusikan aplikasi-aplikasi antar device secara lebih luas dan sangat mengurangi biaya komputasi
secara keseluruhan.
Marinela Mircea
and Anca Ioana Andreescu (2011),[18]
telah melakukan penelitian yang lebih mendalam tentang implementasi cloud
computing di perguruan tinggi, dan kemudian menyimpulkan bahwa meskipin
dikritik dan memiliki kelemahan, namun cloud computing harus tetap jalan. Situasi ekonomi saat ini akan memaksa
semakin banyak organisasi setidaknya untuk mempertimbangkan mengadopsi solusi
cloud. Universitas telah mulai mengikuti inisiatif ini dan ada bukti yang
menunjukkan penurunan signifikan pada beban (pembiayaan) akibat implementasi
solusi cloud.
Achmad Solichin,
dkk (2012)[19],
telah mempublikasikan hasil penelitiannya tentang permodelan arsitektur TI
berbasis cloud untuk perguruan tinggi di Indonesia. Penelitiannya menggunakan
pendekatan togaf untuk membangun sebuah teori enterprise sistem dan kemudian
ditransformasikan ke dalam arsitektur cloud computing, tidak menggunakan salah
satu framework arsitektur yang dikembangan oleh vendor melainkan membangun
arsitektur sendiri dengan berbasiskan pada analisa kebutuhan sistem informasi
pada perguruan tinggi.
Simon Petrus
Sibayang, dkk (2013)[20]
melakukan penelitian peningkatan kualitas informasi perguran tinggi melalui
komputasi awan, kemudian ia menyimpulkan, bahwa penerapan cloud computing bisa jadi merupakan solusi yang menjawab kebutuhan
institusi pendidikan akan teknologi informasi yang efektif dan efisien. Solusi
ini dapat menunjang proses belajar mengajar untuk institusi yang memiliki sumber
daya terbatas, baik dari segi modal, sumber daya manusia,. Beberapa tantangan
yang harus dihadapi untuk mengimplementasikan teknologi ini di Indonesia
diantaranya adalah masalah keamanan dan keterbatasan bandwidth. Fredi Susanto,
dkk (2012)[21],
meneliti penggunaan cloud computing di perguruan tinggi dari sudut efisiensi
pembelajaran online.
Dari tinjauan
pustaka tersebut permasalahan yang dibahas pada penelitian ini belum pernah
dilakukan.
5.
Metode Penelitian
Metode
penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi literatur, yaitu
mengkaji tulisan yang berkaitan dengan Cisco
cloud computing arsitecture framework, dan karakteristik penggunaan
teknologi informasi di perguruan tinggi di Indonesia. Kajian meliputi
aspek-aspek yang berkaitan dengan karakteristik dasar cloud, serapannya
terhadap karakteristik penerapan TI di perguruan tinggi di Indonesia dan
ketersediaan Cisco cloud computing arsitecture framework terhadap karakteristik
penerapan TI perguruan tinggi di Indonesia.
6. Hasil dan Pembahasan
A.
Karakteristik
arsitektur cloud computing untuk Perguruan Tinggi di Indonesia.
Karakteristik IT
di perguruan tinggi di Indonesia diberntuk berdasarkan tuntutan internal dan eksternal
yang harus dipenuhi. Menurut Veronica S. Moertini[22],
arsitektur perguruan tinggi di Indonesia.
Gambar
2. Arsitektur Informasi Perguruan Tinggi (sumber: Veronica)
Sementara itu,
Ahmad Solichin, dkk (2012)[23],
memetakan aplikasi perguruan tinggi di Indonesia sebagai gambar berikut ini,
Tabel
1. Struktur Aplikasi Perguruan Tinggi (sumber A. Solichin)
Kemudian dari
hasil pemetaan tersebut, ia mentransformasikan ke dalam bentuk karakteristik
cloud computing sebagai berikut:
Gambar
3. Struktur Cloud Computing Perguruan Tinggi (sumber A.Solichin)
Dari kedua hasil
penelitian tersebut diperoleh pengetahuan bahwa arsitektur informasi perguruan
tinggi di Indonesia. Apabila ditransformasikan ke dalam model Deployment Cloud, terdapat beberapa
aplikasi yang bisa diakses publik dan hanya diakses internal kampus, dan masih
mungkin untuk di akses sebagai komunitas tertentu seperti komunitas alumni
perguruan tinggi. Ketiga model deploymen tersebut di ilustrasikan dalam bentuk
tabel berikut ini.
Deployment Model
|
Aplikasi
|
Public Cloud
|
SPMB, Sistem Informasi Penelitian dan Pengabdian
Masyarakat, Jurnal on line, Informasi Berita Kampus (Web kampus)
|
Private Cloud
|
SIAKAD, SI Perpustakaan, SI Laboratorium, SI
Kepegawaian, SI Inventory (BMN), SI Perencanaan, SI Keuangan, SI Laporan
Akademik (EPSBED), e learning
|
Community Cloud
|
SI ALUMNI (Ikatan Alumni Information center)
|
Tabel
2. Struktur Deployment Model Cloud Perguruan Tinggi
Dengan kata
lain, bahwa karakteristik deployment model perguruan tinggi di Indonesia bersifat
Hybrid, yaitu penggabungan antara public
cloud dan private cloud serta
(masih bisa dikembang) community cloud.
Dari penelitian
Veronica di atas, diketahui bahwa setiap sistem informasi yang dikembangkan merupakan
berbasis pada pengolahan data atau berbasis data perguruan tinggi, ia
mengelempokkan basis data[24]
tersebut sebagai berikut:
1) BD
Operasional. BD Operasional mengelola data yang diakses dan diubah oleh
sistem-sistem informasi di perguruan tinggi. BD Operasional terdiri dari banyak
tabel yang berisi data transaksi yang dilakukan oleh para pengguna sesuai
dengan kewenangannya.
2) BD
Referensi Umum, Perguruan tinggi dan Penjaminan Mutu. BD ini berfungsi untuk
menyimpan dan mengelola seluruh data referensi yang tidak sering berubah,
misalnya data kota, propinsi, fakultas, program studi, parameter mutu, dll.
3) BD
Borang berisi data agregat / ringkasan (pada berbagai tingkat) dari data yang
tersimpan pada BD Operasional dan selalu bersifat up to date. SI Penjaminan
Mutu mengakses BD ini. BD Referensi PM berisi data referensial, yaitu dokumen
prosedur, standar penjaminan mutu, pedoman evaluasi mutu, parameter, bobot,
indikator kualitas dan dokumen-dokumen lain yangdiperlukan untuk penilaian
terhadap pemenuhan standar-standar mutu. BD Operasional Penjaminan Mutu
menyimpan data transaksional hasil evaluasi penjaminan mutu.
4) Data
warehouse berisi data agregat yang terklasifikasi, dikonstruksi dari BD
Operasional untuk menjamin kebenaran dan kekinian data melalui proses extract, transform, clean, load (ETCL).
B.
Framework Cisco Cloud
Framework cloud computing yang
dikembangkan oleh Cisco System™, disebut sebagai Cisco Cloud Refference Architecture Framwork, untuk membedakan
penyingkatan kata dengan framework yang dikembangkan oleh IBM yaitu Cloud Computing Refference Architecture Framework
(CCRA), maka dalam tulisan ini untuk framework cisco dsingkat CCRAF.
CCRAF dibagi dalam beberapa layer,
yaitu
Gambar
4. Cisco Cloud Computing Architecture Refference (sumber: Cisco System™)
Dari gambar framework di atas dapat
dijelaskan sebagai berikut:
1) Lapisan
paling bawah konsep cloud Cisco dapat di masukkan sebagai Infrastuktur sebagai
sebuah layanan (IaaS). Pada lapisan ini proses virtualisasi jaringan komputer
dan storasi data dilaksanakan. Virtualisai
meliputi virtual server, virtual swicthhub, virtual komputer dan virtual
penyimpanan. User dapat mengkofigurasi sendiri besar kecilnya jaringan yang
akan dibangun, jumlah server yang dibutuhkan, jumlah workstation yang
dibutuhkan dan seberapa besar kapasitas penyimpanan yang dibutuhkan. Pada
lapisan ini user dapat memanajemen dan memonitoring jaringan layaknya pada
jaringan nyata, meskipun konsepsinya berbasis enterprise (berskala besar).
2) Pada
lapisan kedua, adalah lapisan sistem pengamanan (security) konfigurasi keamanan terhadap akses data dalam storage dan akses jaringan dilaksanakan
di lapisan ini.
3) Lapisan
ketiga adalah lapisan orkestrasi, yaitu penyeimbangan kinerja akses terhadap
jaringan dan storage. User dapat mengkofigurasi besarnya kapasitas dan
kecepatan akses sesuai dengan aplikasi dan sistem delivery-nya.
4) Lapisan
keempat adalah lapisan sistem delivery
atau sistem penghantaran, user dapat mengkonfigurasi sistem penghantaran ke
dalam jaringan dan penyimpanan data. User dapat memilih sendiri sistem operasi
baik untuk vPC, maupun vServer, yang telah di konfigurasi di lapisan
Infrastruktur. Pada lapisan ini juga user dapat mengkofigurasi sendiri pilihan
web server, apakah berbasis Windows™, Linux™, atau yang lain yang dikuasai oleh
user.
5) Sedangkan
lapisan yang paling atas, adalah lapisan yang berhbungan langsung dengan pengguna
cloud. Pada lapisan inilah, kegiatan-kegiatan berbasis software di laksanakan.
C.
Arsitektur
Cloud Perguran Tinggi berbasis CCRAF
Dengan menggabungkan antara
konsepsi Veronica, dan konsepsi Ahmad Solichin, kemudian ditransformasikan ke
dalam model framework cisco akan diperoleh gambar sebagai berikut:
Gambar
5. Framework Arsitektur Cloud Perguruan Tinggi berbasis CCRAF
Gambar tersebut menjelaskan bahwa :
1) Infrasturktur
jaringan perguruan tinggi dikelola dilapisan paling bawah, oleh seorang
administrator jaringan. Ia bertugas untuk membuat virtualisasi sistem jaringan,
seperti virtualisasi server, virtualisasi komputer dan virtualisasi penyimpanan
(storage).
2) Pada
lapisan inilah seorang adminsitrator jaringan memutuskan untuk memilih basis
server yang akan dipakai sebagai pendukung infrastruktur jaringan, apakah ia
berbasis Windows, Linux, atau yang lain.
3) Manajemen
basis data juga dilaksanakan di lapisan ini, administrator bertugas untuk
menetapkan basis data yang paling sesuai dengan platform, disini diperlukan
komunikasi dengan manajer platform. Agar terjadi kesesuaian antara kebutuhan
dengan ketersediaan.
4)Disamping
itu administrator juga bertugas melakukan sistem keamanan jaringan untuk
menjamin bahwa data dalam storage, dan pengelolaan server hanya dapat diakses
oleh orang yang diberi hak untuk itu.
5) Kemudian
agar terjadi keseimbangan dan optimalisasi arus transaksional data, arus
aplikasi ke server seorang administrator harus mengkofigurasi orchestrasi
akses, yaitu agar terjadi efisiensi waktu dalam mengakses data dan server.
6) Pada
layer (lapisan) selanjutnya penyediaan platform, pada layer ini, sistem
dikelola oleh seorang administrator Platform. Tugas dan fungsi utama dari
manajemen di layer ini adalah menetapkan platform yang paling tepat untuk
pengembangan aplikasi. Untuk itu ia harus berkomunikasi dengan manajemen
aplikasi agar terjadi kesesuaian, disamping harus berkomunikasi dengan
manajemen jaringan agar disiapkan server sesuai dengan kebutuhan.
7) Platform
manajer, mengkofigurasi server untuk menyediakan layanan-layanan yang
dibutuhkan atau yang disediakan bagi aplikasi yang dikembangkan di perguruan
tinggi.
8) Layer
berikutnya atau lapisan yang paling tinggi adalah lapisan yang berhubungan
langsung dengan pengguna sistem. Pada lapisan ini manajer software (perangkat
lunak). Ia bertugas untuk mengelola, merancang, mendesain dan melaksanakan
sistem informasi manajemen yang dibutuhkan.
9) Manajer
Perangkat lunak bertanggung jawab untuk memutuskan aplikasi yang akan
ditetapkan sebagai layanan public yang dapat diakses oleh publik, layanan
private, yang dapat di akses hanya oleh internal perguruan tinggi, dan layanan
yang hanya dapat diakses oleh kelompok tertentu, mislanya alumni.
6. Kesimpulan
Dari penelitian ini
dapat disimpulkan bahwa cloud computing
merupakan sebuah langkah lanjut yang sangat baik bagi perguruan tinggi dengan
beberapa pertimbangan antara lain aspek ekonomis, yang dapat menghemat belanja
barang modal komputer dan jaringan, menciptakan green computer yang ramah lingkungan dan kemudahan akses.
Ciso Cloud Computing Refference Architecture
Framework, dapat diadopsi dengan baik bagi
perguruan tinggi, terutama perguruan tinggi yang memiliki sumber daya yang
terbatas.
Untuk dapat
mengadopsi cloud computing perguru
tinggi minimal membutuhkan 3 orang administrator untuk dapat mengelola
Virtualisasi Jairngan, Virtualisasi Platform dan Manajemen aplikasi.
7.
Saran
Penelitian ini
masih terbatas pada perkiraan kebutuhan sistem informasi dan pengelolan data di
perguruan tinggi. Masih diperlukan penelitian lebih mendalam untuk kebutuhan
sebuah perguruan tinggi, sesuai dengan kemampuan perguruan tingggi tersebut.
Sangat penting
untuk melakukan penelitian perbandingan framework dengan framework lain,
sebelum mengadopsi CCRAF dari Cisco System™, agar diperoleh gambaran yang tepat
baik dari sisi efisiensi dan kemudahan pengelolaan.
[2]Berkah I. Santoso,” Cloud Computing dan Strategi TI Modern” Komunitas Cloud
Computing Indonesia, 2012
[3] Shamsul Anuar Mokhtar, Cloud
Computing in Academic Institution, ACM 978-1-4503-1958-4, 2013
[4] ……., “The Cloud: A Smart Move for Higher Education” White Paper by
www.ellucian.com
[5] Peter Mell dan Timoty Grance “The NIST Definition of Cloud
Computing” NIST 2011
[6] Gerd Breiter “IBM Cloud Computing Architecture: Beberapa Aspek
Pilihan”, IBM Corp. 2011
[7] Mohammad A. Rashid dkk, “The
Evolution of ERP Systems: A Historical Perspective” Idea Group Publishing,
2002
[8] Kuswardani Mutyarini,dkk, “
Arsitektur Sistem Informasi Untuk Institusi Perguruan Tinggi di Indonesia,”
Prosiding Konferensi Nasional Teknologi
Informasi & Komunikasi untuk Indonesia 3-4 Mei 2006,
[9] Gerd Breiter “IBM Cloud
Computing Architecture: Beberapa Aspek Pilihan”, IBM Corp. 2011
[10] Peter Mell dan Timoty Grance, ibid
[11]Mark Wilkins, “Cloud
Foundation Architecture, Release 3.0” Oracle, 2011
[12] HP White Paper, “Understanding
the HP CloudSystem Reference Architecture”, Hewlett-Packard Development
Company, 2011
[13] Cisco White Paper, “Cisco
Cloud Reference Architecture Framework”, Cisco System 2011
[14] Demeke Gebresenbet Bayyou ddk, “Cloud
Computing Reference Architecture from Different Vendor’s Perspective”, International
Journal of Emerging Technology and Advanced Engineering, Volume 3, Issue 11,
November 2013
[15] Shamsul Anuar Mokhtar, ibid
[16] Samuel S. Conn, dkk, “Cloud
Computingin Support of Applied Learning:Abaseline Study of Infrastructure
Design at Southern Polytechnic State University” Proceeding of the Information
System Educations Conference New Orleans, USA 2012
[17] Mohammed Al-Zoube dkk, “E-Learning
on the Cloud”, International Arab Journal of e-Technology, Vol. 1, No. 2,
June 2009
[18] Marinela Mircea and Anca Ioana Andreescu, “Using Cloud Computing in
Higher Education: A Strategy to Improve Agility in the Current Financial
Crisis” IBIMA Publishing, 2011
[19] Ahmad Solichin, dkk “Permodelan Arsitektur Teknologi Informasi berbasis Cloud Computing untuk Institusi Perguruan
Tinggi di Indonesia”, Seminar Nasional Teknologi Informasi & Komunikasi
Terapan 2012
[20] Simon Petrus Sibayang, dkk,”Peningkatan
Kualitas Informasi Perguruan Tinggi melalui Penggunaan Pangkalan Data Berbasis
AWAN” Seminar Nasional Teknologi Informasi dan Komunikasi, 2013
[21] Fredi Susanto, dkk, “Cloud
computing sebagai Solusi Efisiensi dalam Sistem Pembelajaran Online Perguruan
Tinggi”, Seminar Nasional Teknologi Informasi & Komunikasi Terapan 2012.
[22] Veronica S. Moertini, “Pengembangan
Sistem dan Sarana Teknologi Informasi untuk Perguruan Tinggi Indonesia”, Rapat
Umum Anggota APTIK, Bandung, 10-12 Maret 2008
[23] Achmad Solichin, dkk, ibid
[24] Veronica, ibid






Tidak ada komentar:
Posting Komentar