Rabu, 15 April 2015

esai

Dari sabun mandi hingga kopi pagi

Suatu hari anda berjalan ke sebuah supermarket, anda menemukan bermacam barang yang dijual, tersusun dengan rapih. Anda dan pengunjung lain dimanjakan dengan informasi yang mudah diakses. Disana terdapat tulisan besar yang memberikan informasi kepada calon pembeli tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan hal yang tertulis pada tulisan besar tersbut. Jika anda menuju pada tulisan besar tentang “Alat Rumah Tangga”,  lalu akan ditemukan di dalam rak-rak (slot) berbagai macam barang keperluan rumah tangga yang terkelompok secara rapi ke dalam berbagai entitas barang dan atribut harga.

Ambil contoh misalnya alat rumah tangga dengan entitas “sabun”, pada rak sabun tersebut akan ditemui berbagai jenis sabun, sabun mandi, sabun cuci  dan seterusnya. Pada setiap kelompok sabun tersebut dikelompokkan kembali berdasarkan produsennya, dan dari kelompok produsen dikelompokkan lagi ke dalam kelompok harga, begitu seterusnya sampai kelompok terkecil yang mungkin dibentuk.

Begitulah Informasi, ia tersusun dari data-data. Mirriam webster.com[1] (kamus berbahasa inggeris secara online) menjelaskan bahwa informasi adalah  1. Pengetahuan yang diperoleh melalui investigasi, studi, atau instruksi,  2.Intelligensia, dan berita, 3. Fakta dan data. Jadi tulisan besar yang terpampang di supermarket yang menunjukkan fakta dan data tentang tulisan tersebut disebut informasi. Informasi tentang sabun.

Baik, anda kemudian mengambil beberapa buah sabun yang diperlukan dari slot yang tersedia, masukkan ke dalam keranjang belanja, kemudian anda menuju kasir. Tak perlu dibahas tentang antrian karena antrian sudah pasti menganut paham FIFO (firts in first out). Mungkin akan dibicarakan pada saat yang lain. Kembali, setelah sampai di meja kasir, biasanya sang kasir akan bertanya apakah anda memiliki member card?

Sejenak ingatan kita dibawa saat membuat member card, gratis, dan hanya menyerahkan foto kopi identitas diri (KTP, SIM, atau sejenisnya) dan dilayani oleh senyuman seorang pramuniaga yang cantik. Ketika KTP diserahkan padanya, maka data pribadi anda telah diserahkan, sebagai imbalannya nanti akan mendapat bermacam bonus yang sepertinya menarik dan menyenangkan.

Member card bukan hanya di supermarket, di dunia bisnis layanan publik umumnya menyediakan atau menganjurkan pelanggannya untuk membuat member card.Dari member card, terhimpun data pelanggan yang berasal dari bermacam hal, dan ketika terjadi transaksi (seperti tatkala mambayar sabun), maka akan terjadi banyak korelatifitas yang dapat digali (mining data) antara pelanggan dan yang dilanggani. Berapa frekwensi pembelian sabun dalam satu bulan, triwulan, semester dan dalam setahun. Dalam frekwensi belanja sabun tersebut akan digali lagi jenis sabun apa yang sering dibeli, perbandingan antara tiap item sabun yang dibeli pada periode tertentu untuk mengetahui prioritas pelanggan dalam membeli sabun, dan lain-lain.

Dalam skala yang lebih luas, akan diperoleh informasi bisnis intelligen tentang perilaku pelanggan sebuah supermarket, trend belanja mingguan, bulanan dan even-even tahunan seperti hari-hari besar. Dari trend yang diperoleh, manajer supermarket mendapatkan data yang dapat ditawarkan: 1. Kepada para pemegang saham, manajer dapat menawarkan bahwa ia memiliki pelanggan tetap yang besar dengan tingkat belanja yang memadai. 2. Kepada perusahaan-perusahaan lain, dapat menyewakan ruangan untuk melakukan kegiatan – kegiatan promosi pada even-even tertentu. 3. Dapat lebih cepat memprediksi waktu break event time, merencanakan keuntungan dan bonus untuk pelanggan dan karyawan.

Perusahaan supermarket mendapatkan banyak keuntungan finansial dan non finansial yang dapat dieksplorasi lebih dalam lagi. Semua berasal dari member card yang gratis, dan anda mendapat penghargaan berupa discount sekitar 20% (mungkin setelah diadakan rekayasa harga barang). Senada dengan member card di supermarket, pelanggan dapat menjual rutinitas penerbangannya misalnya.  Kita ambil contoh, Garuda Indonesa menawarkan 4 (empat) jenis kartu keanggotaan, yang disebut Garuda Frequent Flyer (GFF), GFF Blue, GFF Silver, GFF Gold dan GFF Titanium[2]. Cathay Pacific dengan Marcopolo Membershipnya menawarkan empat model membership, Green, Silver, Gold dan Diamond, dengan bermacam bonus yang bakal diterima yang semuanya mewah pada kelasnya masing-masing. Rutinitas penerbangan menjadi lebih menguntungkan?.

Well (baiklah), pemilik mamber card dan pemilik usaha, “merasa” diuntungkan. Tapi dimanakah sebenarnya sumber keuntungan itu berasal? Data. Anda menjual data diri dengan imbalan bonus berupa diskon atau fasilitas lebih baik (mewah) yang bakal diterima dari perusahaan. Murah kan? Perusahaan kemudian dapat “menjual” data pelanggannya kepada pemilik modal (investor) untuk mendapatkan suntikan dana segar, dapat melakukan forecasting secara lebih akurat dan akuntabel (keuntungan yang bersifat intangible). Lebih dari itu secara illegal mungkin data anda dapat “bocor” ke beberapa perusahaan iklan yang menjanjikan promosi murah melalui pesan singkat di handphone atau email (yang ini kadang mengesalkan).

Jadi data yang anda berikan pada customer service cantik itu sangat mahal nilainya. Data adalah asset berharga. Informasi usaha yang mengalir dan menghidupkan sebuah perusahaan,  keputusan-keputusan penting dalam manajemen, yang dapat saja mengakibatkan pembiayaan sampai dengan milyaran  atau lebih, atau keputusan-keputusan yang menyangkut kehidupan ribuan karyawannya, atau keputusan-keputusan yang berhubungan dengan pelayanan pelanggan. Semua berasal dari data.
Dalam perspektif informasi data adalah informasi yang masih mentah atau tidak terorganisir (seperti huruf, angka atau simbol), yang merujuk atau mewakili suatu ide, kondisi, atau benda. Data tak terbatas, ia ada di mana-mana di alam semesta. Dalam perspektif komputer data adalah simbol atau sinyal yang diimput, disimpan dan diproses, sehingga menghasilkan sesuatu informasi yang dapat digunakan[3].

Lebih dari itu data adalah performance, ia menunjukkan tentang tampilan sebuah sosok yang sesungguhnya. Data juga adalah capaian, sebuah prestasi yang dicapai oleh suatu aktivitas, prestasi positive yang membuat senyum semua orang, atau prestasi negatif yang memurungkan muka banyak orang. Data adalah zat yang merepresentasikan eksistensi sebuah benda atau tubuh. Jika data tersedia dengan rapih, tertata, terkelola, terberdayakan, maka body yang ditampakkan pasti keren abis.
Dengan demikian data ialah ruh (tetapi apakah ruh adalah data?), yang menggerakkan kehidupan moderen.

Dalam sebuah laporannya, Sathyanarayanan Palaniappan, seorang direktur konsultasi pada  Cognizant Business Consulting’s Banking and Financial Services Practice, menyebutkan bahwa Northen Trust (perusahaan penjaminan keuangan) telah menyediakan sampai dengan $ 1,7 milyar selama tiga tahun terakhir untuk mendukung deliveri informasi dalam bidang pelayanan aset dan manajemen aset. State Street sedang mempersiapkan bisnis baru pada solusi informasi yang disebut Global Exchange, yang akan fokus pada memberikan analisis data dan solusi kepada klien pada tahun 2014. Mereka terlibat dengan klien dalam membahas kemungkinan kasus penggunaan sampai November 2013. State Street menghabiskan $ 80.000.000 per tahun[4].

Dalam sebuah artikel online tentang Big Data, Kate Incontrera, pada tanggal 16 Pebruari 2015, memposting sebuah artikel yang berjudul:” Big Data Investments: Opportunities Behind the Buzz”, ia mengutip ucapan yang disampaikan oleh Juan Enriquez direktur manajer Exel Medic Ventures, dalam sebuah video[5];
“Kemajuan terbesar dari kehidupan kita adalah evolusi bagaimana kita berkomunikasi ...mulanya dari berbicara dalam bahasa ABC, menjadi bahasa 1 dan 0*)”
Seorang teman memahami bahwa data sangat penting ketika sedang menjalankan sebuah program  aplikasi karena pada saat itu data diinput, diproses dan menjadi keluaran. Dari data yang dimasukkan kemudian disimpan lalu keluarlah printout sebuah struck belanja. Sehingga ia berseloroh untuk apa perlu biaya besar untuk sebuah proses yang hanya menghasilkan sejenis struk belanja, bahkan struk itu acapkali dibuang orang ketempat sampah.

Pendapat seperti ini patut mendapat apresiasi. Ada loncatan pemahaman dari sekedar menganggap aplikasi sebagai kalkulator besar kepada proses penyimpanan. Ada loncatan kedewasaan dalam memahami pentingnya data dalam informasi meski tetap masih belum dewasa.

Proses manajemen memang menarik, para ahli bidang manajemen sepakat bahwa manajerial adalah skill and art. Penggunaan keahlian dan seni tidak dapat di plot dengan jelas, sehingga tak ada seorang manajerpun yang dapat mengatakan bahwa skill hanya untuk manajemen A, dan seni untuk manajemen selain A. Keduanya berstimulasi secara bergantian, saling melengkapi dan saling mendukung secara intuitif. Bertahun-tahun pendapat ini tak terbantahkan dan semuanya baik-baik saja.

Ini memang wilayah penelitian yang sangat menantang, idiom manajemen adalah gabungan antara keahlian dan seni sudah menjadi postulat yang hampir absolutely right. Tantangan terletak pada pembuktian bahwa dengan data yang akurat keahlian dan seni menjadi lebih terbantu jauh lebih baik, efisien dan efektif.

Daniel Katz, mengelompokkan skill dalam manajemen ke dalam tiga hal[6], 1. Conceptual Skill (Keahlian Konseptual), memungkinkan seorang manajer untuk memvisualisasikan seluruh organisasi dan bekerja dengan ide-ide dan menghubungkan antara banyak konsep yang bersifat abstrak. 2. Human Skill (kemampuan berkemanusiaan) atau sering juga disebut human realtion skill yaitu keahlian yang memerlukan komunikasi dan perhatian untuk membangun hubungan dengan orang lain. 3. Technical Skill (Keahlian teknik), kemampuan untuk dapat melaksaakan pekerjaan dengan benar, yaitu kemampuan teknis, kemampuan prektek, penggunaan peralatan dan proses pekerjaan yang dibutuhkan oleh karyawan di garis depan di wilayah fungsional manajer. Sedangkan sebagai seni Mary Perker-Follet, menganggap manajerial adalah seni mengarahkan orang lain untuk mencapai tujuan.

Peran data dalam menajemen seperti yang dikemukakan di paragraf sebelumnya jelas berada diluar area keilmuan manajemen, data merupakan tool yang akan digunakan ketika sang manajer melaksanakan fungsi-fungsi manajerialnya. Artinya penggunaan data sebagai alat bantu manajemen bergantung sang manajer, subyektif. Maka jika orang yang berkata bahwa ia dapat menjalankan bisnisnya tanpa seperti uraian di atas, orang tersebut benar.

Dalam skala yang kecil data menjadi tidak nampak, namun tetap mengalir dan diperlukan. Bahkan seorang penjual mie dipinggir jalan akan melakukan analisa “ringan” atas prestasi penjualannya selama periode tertentu, sebelum ia mengambil langkah misalnya untuk pindah tempat atau pindah usaha, menambah komposisi bumbu dapurnya untuk meningkatkan citarasa mie jualannya. Meskipun data yang ia gunakan tidak di collect dan dikomputasi dengan bantuan teknologi informasi.
Tukang mie dipinggir jalan tadi, merupakan titik terendah dan perusahaan berskala enterprise adalah titik optimal penggunaan data dalam manajemen. Skalabilitas penggunaan data akan memberi pengaruh terhadap pandangan dan keputusan investasi bidang teknologi informasi. Semakin besar data yang menghidupi sebuah perusahaan semakin besar investasi yang harus ditanamkan untuk teknologi informasi. Namun tak dapat dibalik, bahwa semakin besar investasi teknologi informasi maka semakin besar data yang mengalir.  

Skalabilitas penggunaan data dan investasi TI,  merupakan persoalan paradigma ketika seseorang mengadopsi teknologi informasi. Persoalan ini tak ubahnya ketika membeli sabun di supermarket tadi. Anda dapat saja membeli semua jenis sabun dari berbagai merek lalu sehingga nampak bahwa anda setiap hari memakai sabun. Anda dapat saja membeli semua sabun sebanyak uang yang anda miliki, tapi hal itu tidak otomatis mengubah anda menjadi wangi.

Sekalipun kita minum kopi setiap hari tidak akan mengubah kita menjadi hitam.....





[1] http://www.merriam-webster.com/dictionary/information
[2] http://garudaku.blogspot.com/2013/08/keuntungan-menjadi-member-gff-garuda.html
[3] http://www.businessdictionary.com/definition/data.html
[4] The Economic Value of Data: A New Revenue Stream for Global Custodians, Cognizant 20-20 Insights november 2013
*)catatan: 1 dan 0 adalah menunjuk bilangan biner yang merupakan bentuk enkripsi atau enkapsulasi data yang dihubungkan dalam media tranciever alat komunikasi elektronik.

[6] http://study.com/academy/lesson/what-are-conceptual-skills-in-management-definition-lesson-quiz.html

1 komentar: